Sumbu Borneo

RAKYAT TURUN LAGI

Ilustrasi
Opini-SumbuBorneoID
Bagikan :

Oleh : Muslimin. M

Saya tidak menyangka mereka akan turun lagi. Sudah lama tidak melihat demonstrasi sebesar ini. Di beberapa kota, bahkan nyaris serentak.Tanpa komando pusat.Tanpa koordinator nasional.Tapi semua bergerak.

Dan yang membuat saya tercengang bukan hanya mahasiswa. Bukan hanya LSM.Tapi rakyat biasa.

Ibu rumah tangga.Tukang parkir. Buruh pabrik. Petani. Pedagang kaki lima.
Mereka datang tanpa megafon.Tapi suaranya terdengar sampai jauh. Karena kali ini bukan hanya soal harga. Bukan hanya soal kebijakan.Tapi soal *rasa* yang terinjak-injak.

Saya ingat, beberapa minggu sebelumnya, seorang pejabat muncul di media. Wajahnya dingin. Suaranya keras. Menjawab keluhan rakyat seperti sedang memarahi bawahan.

Kalimatnya singkat, tajam, dan menyakitkan.

“Kalau tidak suka, keluar saja! Jangan tolol sedunia”. Katanya

Rakyat yang mendengar itu tidak langsung marah, tidak punya waktu marah, masih harus kerja, masih harus berpikir bagaimana bayar sekolah anak, masih harus hadapi harga sembako yang makin tak masuk akal.

Tapi mereka simpan dalam hati.

Dan hari ini, isi hati itu tumpah di jalanan.
Demonstrasi yang marak ini tidak punya satu tuntutan tunggal. Tidak ada spanduk besar berisi 10 Tuntutan Rakyat. Tapi kalau kita dengar bicaranya, isinya sama yaitu *muak*.

Muak dengan omongan manis yang tak jadi kenyataan.

Muak dengan pejabat yang makin kaya, rakyat makin terjepit.

Muak dengan aturan yang selalu berpihak ke atas.

Muak dengan sikap angkuh kekuasaan yang tak mau mendengar.

Saya tidak anti pejabat.
Tapi saya tahu, kekuasaan bisa memabukkan. Bisa membuat kita lupa, bahwa di luar pagar kantor, ada orang-orang yang hidupnya tidak semewah narasi yang kita buat.

Dan yang paling mudah membuat orang marah bukanlah kemiskinan.Tapi rasa dipermalukan.

Itulah yang terjadi hari ini.

Saya melihat diantara kerumunan massa. Ada seorang ibu yang duduk di trotoar, membawa bungkusan nasi. Di sampingnya ada anak kecil. Mungkin anaknya. Mungkin cucunya.

Dia ditanya oleh seseorang, kenapa ikut turun. Dia menjawab pelan, “saya tidak tahu politik pak, tapi kalau tidak begini, mereka tidak dengar kita”.

Orang itu tersenyum,
Mungkin karena dia tahu, itu kalimat paling jujur yang dia dengar hari itu.

Rakyat tidak ingin kekacauan.
Mereka tahu negara ini rumahnya juga.

Tapi kalau penghuni rumah terus diinjak, suatu hari akan melawan. Bukan untuk menghancurkan rumah itu, tapi untuk memperbaikinya. Supaya adil. Supaya layak ditinggali.

Sayangnya, pejabat kadang hanya mulai mendengar… ketika suara rakyat sudah keras. Ketika massa sudah turun. Ketika media sudah meliput. Ketika krisis sudah di depan pintu.

Padahal, semua itu bisa dicegah. Kalau saja sejak awal, mau turun lebih dulu. Bukan turun dari mobil mewah, tapi turun ke hati rakyat.

Saya tidak tahu sampai kapan gelombang ini bertahan.

Bisa jadi surut. Bisa juga makin besar.
Tergantung pada satu hal, apakah pejabat akan tetap keras kepala atau mau mendengar.

Karena rakyat hanya ingin satu hal, Dihargai.

Dan kita berharap Semoga para pemimpin negeri ini selalu memperhatikan rakyat nya dengan sungguh-sungguh. Dan negeri ku kembali Damai seperti dulu kala.

Berita-Terkait

Leave a Comment

error: Content is protected !!