Oleh : Muslimin.M
Di hari rabu siang itu agak mendung, pertanda jakarta akan hujan.Tapi suasana tetap panas. Seseorang ditangkap oleh KPK.
OTT lagi, bunyi headline sebuah media online.
Saya kenal pejabat yang ditangkap itu, saya sering lihat wajahnya di TV.Tapi saya tidak pernah bertemu dengannya, sepertinya dia terlihat sopan, rapi, dan sering mengecek ponselnya. Mungkin sedang menunggu pesan yang tidak datang-datang.
Dan rupanya, pesan itu benar-benar datang.Tapi bukan dari siapa-siapa. Pesan itu dari KPK.
OTT adalah semacam kutukan modern di zaman ini. Datang diam-diam.Tanpa suara. Tapi meninggalkan ledakan yang tidak habis-habis. Media sosial pun langsung menghakimi. Bahkan mendahului pengadilan.
Saya tidak membela siapa pun. Saya juga tidak ingin menghujat.Tapi saya hanya ingin bertanya, mengapa OTT masih terus terjadi ?
Bukankah kita sudah punya sistem pencegahan ? Bukankah pejabat kita sudah digaji tinggi ? Sudah diberi mobil dinas ? Sudah dilatih integritas ?
Atau memang OTT itu seperti hujan, kita tahu akan datang, tapi tetap saja lupa bawa payung.
OTT hari ini bukan yang pertama. Dan saya khawatir bukan yang terakhir. Selama sistem masih bisa disiasati, selama *amplop* masih dianggap bahasa yang sopan, maka OTT akan tetap jadi berita panas.
*Ternyata dari kementerian*
Dia bukan menteri.Tapi cukup dekat dengan kekuasaan. Jabatannya cukup penting di kementerian yang anggarannya triliunan. Yang programnya setiap tahun penuh konferensi pers.
Namanya tiba-tiba muncul malam itu. Diseret keluar kantor oleh petugas KPK. Tangannya diborgol, tapi ekspresinya tetap datar. Kamera menyala. Mikrofon diarahkan.Tapi diam.
Saya selalu membayangkan bagaimana rasanya detik-detik sebelum pintu itu diketuk. Apa yang sedang dilakukan ? Rapat ka ? Teleponan ka ? Atau mungkin sedang menandatangani sesuatu ?
Dan apakah dia tahu bahwa malam itu akan menjadi malam terakhirnya duduk di ruangan itu ?
Di kementerian, segala sesuatu memang terlihat rapi. Ada aturan. Ada SOP. Tapi justru karena terlalu rapi, kadang berbahaya, justru tersembunyi dibalik yang formal.
OTT kali ini konon katanya soal pemerasan.Tidak perlu imajinasi tinggi untuk menebak, fee, atau menakut-nakuti. Modelnya masih sama seperti tahun-tahun lalu. Yang berubah cara menyembunyikan.
Saya tidak sedang ingin menyalahkan kementeriannya.Tapi saya hanya ingin bertanya, berapa banyak lagi yang belum tertangkap ?
Yang menyedihkan, OTT ini terjadi di kementerian yang katanya sedang reformasi. Yang punya jargon-jargon keren. Yang sering bicara integritas di seminar.Tapi ternyata masih ada yang disimpan di lemari.
Dan lemari itu, rupanya belum dibersihkan sejak ganti pejabat terakhir.
OTT ini mungkin akan menjadi berita di media selama berhari-hari. Lalu hilang. Tapi trauma dan malu keluarga pejabat itu bisa bertahun-tahun. Bahkan lebih lama dari masa tahanannya sendiri.
Saya hanya berharap, semoga lemari-lemari lain mulai dibuka. Bukan oleh KPK, tapi oleh kesadaran masing-masing.
Karena kalau semua menunggu ditangkap KPK, negeri ini akan kehabisan pejabat nya.(**)
