Oleh : Abdul Majid
Dua hal pokok yang selalu kita minta kepada Allah dalam hidup ini yaitu kebaikan dan perlindungan dari Allah dari hal-hal buruk. Memohon perlindungan Allah biasanya dengan praktek memagari diri dengan berbagai bacaan, salah satunya dengan sejumlah ayat suci Alquran. Melalui ayat-ayat suci ini kita memohon berkahnya sesuai dengan makna yang dikandungnya, Allah memberi perlindungan dari hal-hal buruk, baik berupa perlindungan agar kita tidak terjebak dalam perbuatan buruk, keburukan dari orang maupun dari makhluk lain.
Dalam beberapa kitab hadis ditemukan riwayat bahwa Nabi sendiri selalu memagari dirinya sebelum tidur malam. Ibunda Aisyah menceritakan, setiap malam ketika Nabi hendak tidur, ia kemudian mendempetkan kedua telapak tangannya, membaca Surah al-Ikhlas, Surah al-Falaq, dan Surah an-Nas. Kemudian beliau meniupkan ke telapak tangannya lalu mengusapkan ke seluruh tubuhnya yang bisa dijangkau dengan memulai dari kepala dan wajahnya. Beliau -lanjut Bunda Aisyah- melakukannya sebanyak tiga kali. Riwayat ini disampaikan oleh Wahbah az-Zuhaili dalam kitab tafsirnya, Al-Munir, dikutip dari Sahih Bukhari dan beberapa Kitab Sunan.
Di samping itu kita juga dianjurkan memagari diri pada saat shalat sunnah qabliyah Subuh. Syeikh Abu Bakar Syatha’ dalam Kitab I’anah ath- Thalibin menuturkan bahwa pada shalat sunnah qabliyah shubuh kita dianjurkan membaca surah Alam Nasyrah (al-Insyhirah) setelah Surah al-Fatihah pada rakaat pertama, dan surah Alam Tara Kaifa (al-Fil) pada rakaat kedua juga setelah al-Fatihah.
Sebetulnya menurut beliau ada juga riwayat yang menyebutkan anjuran membaca Qul ya Ayyuhal Kafirun ( al-Kafirun) pada rakaat pertama dan Qul Huwallahu Ahad (al-Ikhlas) pada rakaat kedua. Karena itu dengan mengutip pendapat Imam an-Nawawi, Abu Bakar Syatha menganjurkan untuk menggabung kedua surah itu pada rakaat pertama (Alam Nasyrah dan Qul ya Ayyuhal Kafirun) dan pada rakaat kedua (Alam Tara Kaifa dan Qul Huwallahu Ahad)
Setidaknya, Abu Bakar Syatha mengemukan empat fadhilah bagi yang membaca Alam Nasyrah dan Alam Tara Kaifa ini secara rutin pada shalat sunnah qabliyah subuh, yaitu: Akan menyembuhkan penyakit bawasir (wasir), tidak akan melihat sesuatu yang buruk pada hari itu, tidak akan tertimpa penyakit di hari itu, dan bagi orang yang memusuhinya atau hendak mencelakainya tidak akan pernah menjangkaunya. Fadhilah terakhir ini dikemukakan oleh Imam al-Ghazali dalam Kitab Wasaail Hajaat bahwa hal ini diterima dari sekian banyak ulama Shaleh.
Mungkin muncul pertanyaan, mengapa kedua surah itu yang dianjurkan? Apa hubungannya dengan permohonan perlindungan diri? Saya tidak menemukan uraian Abu Bakar Syatha soal ini. Namun hemat saya, kita bisa menemukan korelasi kedua surah ini dengan perlindungan diri jika mencoba memahami kandungannya.
Surah alam nasyrah mengandung banyak hal. Dua diantaranya: Pertama, tentang kelapangan dada atau hati. Surah ini diawali dengan pertanyaan yang bermaksud mengingatkan Nabi Muhammad, “Bukankah Kami telah melapangkan dadamu?” Meskipun pertanyaan ini ditujukan kepada Nabi Muhammad, bukan berarti kita sebagai ummatnya tidak bisa mengambil faedahnya. Alquran adalah petunjuk bagi semua manusia. Oleh karena itu lewat ayat ini kita memohon berkah dari Allah agar memberi nikmat berupa kelapangan hati di hari itu sebagai bekal untuk berinteraksi dengan orang lain di siang hari dan malamnya. Kelapangan hati sangat penting kita miliki sehingga bisa membentuk pola pikir kita terhadap masalah yang sedang dihadapi. Terkadang kita punya masalah yang sebetulnya remeh namun menjadi rumit hanya karena tidak lapangnya hati saat itu. Sebaliknya , kadang ada masalah besar menjadi ringan karena saat itu kita diberi anugerah hati yang lapang. Hati yang lapang akan membawa pada kesehatan. Sebaliknya hati yang selalu sumpek pada akhirnya akan selalu menyesakkan dada, bisa menyebabkan stress, naiknya asam lambung dan lain sebagainya.
Kedua, melahirkan optimisme. Pada Surah al-Balad ayat empat, Allah menuturkan bahwa sesungguhnya manusia diciptakan dalam susah payah. Artinya, menurut Wahbah az-Zuhaily dalam Tafsir al-Munir, manusia akan selalu berhadapan dengan masalah sejak dari lahir hingga mati, tidak akan ada manusia yang terlepas darinya meskipun masalahnya akan beragam. Namun pada ayat 5 dan 6 dari Surah alam nasyrah ini, Allah menjamin bahwa sesungguhnya setiap kesulitan atau kesusahan akan selalu dibersamai kemudahan. Menariknya, kata العسر (kesusahan) pada surah ini disebutkan dua kali dalam bentuk yang sama, menggunakan alif lam makrifat (al-‘Usr), yang menurut kaidah Bahasa Arab bermakna bahwa kesusahan yang disebutkan di depan adalah sama dengan kesusahan yang disebutkan di belakang, tidak berbeda. Artinya kesusahan dimaksud hanya satu. Sementara kata يسرا (kemudahan) juga disebutkan dua kali dalam bentuk yang sama, nakirah, tanpa alif lam makrifat (Yusran, bukan al-Yusra) di mana menurut kaidah Bahasa Arab jika sebuah kata disebutkan dua kali atau lebih dalam bentuk nakirah, maka makna yang dimaksud oleh kedua kata tersebut berbeda. Jadi bisa dipahami bahwa kemudahan yang dimaksud oleh ayat tersebut ada dua. Dengan kata lain, setiap satu kesusahan selalu dibersamai dua kemudahan. Ayat ini menanamkan optimisme bagi kita bahwa setiap kesusahan yang kita hadapi akan selalu dibersamai oleh dua kemudahan atau jalan keluar. Sejak waktu Shubuh sebelum turun kerja kita membaca surah ini memohon berkah agar ketika turun ke lapangan pekerjaan kita selalu diberikan jalan keluar atas berbagai persoalan yang akan kita hadapi.
Sedangkan kandungan Surah Alam Tara Kaifa sudah diketahui. Surah ini berbicara tentang penghancuran pasukan Abrahah yang datang ke Mekah hendak menghancurkan Ka’bah. Pasukan Abrahah dengan kesombongannya memperlihatkan memamerkan kekuatan pasukannya yang banyak sehingga para penduduk Quraisy termasuk kakek Rasulullah, Abdul Muthalib, tidak berani menghadapinya. Mereka lari ke gunung sambil bertawakkal kepada Allah. Allah kemudian menghancurkan pasukan Abrahah hanya dengan mengirim burung-burung kecil Ababil yang membawa batu kerikil, di mana di setiap batu telah tertulis nama prajurit yang dituju.
Dengan membaca surah ini kita memohon berkah kepada Allah agar rintangan, masalah , keburukan, termasuk niat dan usaha buruk dari orang lain terhadap kita hancur sebagaimana hancurnya Abrahah dan bala tentaranya.
Selain memagari diri dengan amalan harian
Kita bersyukur karena agama melalui Rasul mengajarkan kepada kita bagaimana memohon perlindungan kepada Allah. Mari kita selalu memagari diri dengan ayat-ayatNya dan semoga selalu di bawah naungan-Nya.(**)
Samarinda, 15 Oktober 2023.
