Sumbu Borneo

Prof. Abdul Majid: Pohon Pisang Berbuah dan Makna Saling Memberi Jalan ( Sipaloloang)

Ilustrasi
Ragam-SumbuBorneoID
Bagikan :

SAMARINDA.SUMBU BORNEO.ID– Dalam budaya Mandar, pohon pisang berhiaskan telur berbendera ini disebut Tiri’. Biasanya dipajang pada ajang peringatan Maulid Nabi dan setelah acara selesai telur-telur tersebut dibagikan kepada jamaah terutama anak-anak, bahkan seringkali diperebutkan sebagai ekspresi kegembiraan atas Maulid Nabi.

Begitu dosen UINSI Samarinda Prof.Addul Majid memaknai tentang pohon pisang berbuah, yang artinya saling memberi jalan atau dalam bahasa lokal Sulbar Mandar ( Sipaloloang).

Menurut Prof Abdul Majid, ada sejumlah makna filosofis dan simbolis dari tiri’ ini, salah satunya adalah unsur pohon pisang berbuah tersebut.

Sayyid Ahmad Fadl Al Mahdaly (Imam Besar Masjid Agung Syuhada Polewali, Sulbar) dalam salah satu hikmah Maulidnya menyampaikan agar tidak menggunakan pohon pisang yang belum berbuah.

“Gunakanlah yang telah berbuah matang karena itu adalah warisan dari kebiasaan para leluhur kita sejak dahulu”, ujarnya, mengutip ceramah dari Imam Masjid Agung Polewali.

Prof.Abdul Majid menyebut, kebiasaan ini bukan tanpa makna, tapi syarat dengan makna dan pesan mulia yang perlu diaktualisasikan dalam kehidupan sosial politik saat ini.

Mengapa harus yang berbuah? Ini artinya berikanlah kesempatan kepada pisang tersebut untuk menuntaskan hidupnya, bukankah hidupnya hanya sekali dan setelah itu ia akan mati? Jangan yang belum berbuah karena itu berarti Anda telah memotong proses kehidupannya, alias kehidupannya tidak tuntas.

Pesan sosial politiknya, ujar Prof.Abdul Majid adalah sebagai ummat Nabi seyogyanya kita hidup saling memberi kesempatan (sipaloloang) kepada sesama untuk meraih kebaikan bukan menutup ruang atau jalan bahkan dengan cara memotong atau memonopoli kebaikan itu.

“Beri kesempatan kepada orang lain untuk berkembang hingga menggapai puncak kebaikannya,” pungkasnya.(*)

Berita-Terkait

Leave a Comment

error: Content is protected !!