YOGYAKARTA.SUMBU BORNEO.ID– Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Muchammad Ichsan, menegaskan bahwa karamah para wali adalah fakta nyata, bukan sekadar mitos atau dongeng.
Pernyataan itu disampaikan dalam Pengajian Tarjih bertajuk “Karamah Para Wali: Mitos atau Fakta?” yang disiarkan secara daring dan luring pada Rabu malam (19/11/2025).
“Dari awal saya katakan, pertanyaan ini sebenarnya mudah dijawab karena sudah jelas disebutkan dalam Al-Qur’an, hadis, dan banyak kejadian yang menunjukkan fakta karamah para wali,” tegas Ichsan.
Ichsan mengawali paparannya dengan menukil firman Allah dalam Surah Yunus ayat 62–63: “Ala inna auliya-allahi la khaufun ‘alaihim wa la hum yahzanun. Alladzina amanu wa kanu yattaqun.” (Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran pada mereka dan mereka tidak bersedih. Yaitu orang-orang yang beriman dan senantiasa bertakwa).
Menurutnya, definisi wali Allah sangat jelas: orang yang beriman dan bertakwa. “Jadi kalau ada orang mengaku wali tapi tidak salat, tidak puasa, atau bahkan melakukan maksiat terang-terangan, itu bukan wali Allah, itu wali setan,” tegas Ichsan.
Ia juga mengutip Ibnu Qayyim al-Jauziyah: “Wali Allah adalah orang yang memperbaiki batinnya dengan muraqabah (selalu merasa diawasi Allah) dan memperbaiki zahirnya dengan mengikuti sunnah Rasulullah Saw.”
Karamah Terbesar: Istiqamah Bertakwa di Jalan Allah
Ichsan menukil perkataan Imam Junaid al-Baghdadi yang sangat populer: “Al-karamah dawam al-istiqamah” Karamah yang sejati adalah istiqamah yang terus-menerus, bukan terbang di udara atau berjalan di atas air.
“Dulu banyak cerita wali bisa terbang atau berjalan di atas air. Kalau sekarang mah gampang, pakai drone bisa terbang, pakai sepatu khusus bisa jalan di atas air. Jadi karamah yang seperti itu sudah tidak mengherankan lagi,” candanya, kembali memancing tawa jamaah.
Ichsan menyebut beberapa kisah nyata dalam Al-Qur’an sebagai bukti karamah:
Maryam binti Imran – Mendapat rezeki buah-buahan di luar musim ketika sedang beribadah di mihrab (QS. Ali Imran: 37).
Ashif bin Barkhiya, pembesar kerajaan Nabi Sulaiman, mampu memindahkan singgasana Ratu Bilqis dari Yaman ke Palestina hanya dalam sekejap mata (QS. An-Naml: 40).
Ashabul Kahfi – Ditidurkan Allah selama 309 tahun di dalam gua tanpa makanan dan minuman, namun bangun dalam keadaan sehat (QS. Al-Kahfi).
Ichsan menyinggung karamah para wali di Nusantara. “Wali Songo berhasil mengislamkan mayoritas penduduk Nusantara yang sebelumnya Hindu, Buddha, dan animisme — hanya dengan dakwah damai. Bukankah itu karamah yang luar biasa?”
Ia juga menyebut pendiri Muhammadiyah, K.H. Ahmad Dahlan, sebagai contoh kontemporer. “Dari sebuah gerakan kecil di Kauman Yogyakarta, kini Muhammadiyah menjadi organisasi Islam terbesar di Indonesia bahkan mendunia. Itu karamah yang nyata, bukan terbang, tapi mengubah peradaban,” ujarnya.
Menurut Ichsan, seluruh ulama Ahlussunnah wal Jamaah — termasuk Imam at-Tahawi, Imam an-Nawawi, dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah — bersepakat bahwa karamah para wali adalah haq (benar dan nyata), selama orang tersebut istiqamah lahir dan batin.
Ia juga mengingatkan sabda Imam Sahl at-Tustari: “Menyembunyikan karamah lebih wajib daripada menyembunyikan dosa.” Karena memamerkan karamah bisa menimbulkan riya dan ujub.
“Karamah itu ada dan nyata. Tapi karamah yang paling agung adalah ketika kita bisa istiqamah sampai akhir hayat di jalan Allah. Itu lebih mahal daripada bisa terbang atau berjalan di atas air,” tutup Ichsan.
Sumber : Muhammadiyah.or.id
