Sumbu Borneo

SELAMAT DARI PERCERAIAN BERKAH SURAH AT-TIN

Opini-SumbuBorneoID
Bagikan :

Penulis : Prof. Abdul Majid

Bercanda merupakan salah satu kebiasaan yang dilakukan oleh seseorang dalam
berkomunIkasi. Ini penting untuk menghilangkan stress, terkadang seseorang
merasa kurang enak badan namun ketika ia keluar rumah dan ngopi bersama
teman-temannya dan bercanda ia kemudian merasa nyaman.

Bercanda juga bisa memperkuat jalinan hubungan antara individu, baik suami istri ataupun antara sesama bersahabat sehingga komunikasinya tidak monoton dan tidak membosankan.

Tetapi bercanda juga perlu dibingkai etika sehingga tidak melampaui batas dan tidak menyebabkan ketersinggungan pada lawan bicara yang malah berakibat pada rusaknya hubungan yang sudah terjalin.

Dalam hal ini, Erving Goffman, seorang sosiolog terkenal, pernah mengungkapkan: “interaksi sosial adalah pertunjukan di mana setiap individu berperan sesuai dengan ekspektasi
yang diharapkan oleh orang lain.”

Oleh karena itu, kita harus memperhatikan
harapan orang lain ketika kita bercanda dengan mereka, dan memastikan bahwa
candaan kita tidak melanggar harapan tersebut.

Prof. Wahbah az-Zuhaili ketika menafsirkan Surah at-Tin dalam kitab Tafsirnya,
Tafsir al-Munir, mengemukakan sebuah kisah tentang sepasang suami istri pada masa pemerintahan Abbasiyah. Isa bin Musa al-Hasyimi, cucu keempat dari
Abdullah bin Abbas sahabat sekaligus sepupu sekali Rasulullah, dikenal sebagai
seorang suami yang sangat cinta kepada istrinya. Suatu malam ia berkata kepada
istrinya: “Saya akan talak tiga kamu jika tidak mampu lebih baik dari rembulan.”

Mendengar pernyataan itu sang istri bangkit dan menjauhi suaminya sambil
berkata: “Kalau begitu, Engkau telah menalak saya.” Malam itu Isa al-Hasyimi
mengalami stress tinggi, tidak bisa tidur.betapa tidak, hanya bermaksud bercanda cinta, istrinya yang sangat dicintainya itu akan terpisah dengannya bahkan di malam itu sang istri telah menutup diri dan tidak berkenan lagi didekati apalagi disentuh.

Pagi harinya, Isa al-Hasyimi mendatangi Khalifah al-Manshur untuk memohon
fatwa dan solusi terhadap masalah tersebut. Khalifah kemudian memanggil para ulama ahli fiqih. Singkat cerita, para ulama tersebut sepakat bahwa talak dari Isa
al-Hasyimi telah jatuh kepada istrinya dan keduanya telah bercerai.

Namun Khalifah memperhatikan ada salah seorang ulama yang hadir tidak pernah berkomentar, diam sejak awal. Ia dikenal sebagai ulama pengikut mazhab Hanafi.

Khalifah bertanya: “mengapa Anda diam saja?” sang ulama menjawab dengan
mengemukakan ayat al-Quran Surah at-Tin ayat 1-4: “Bismillahirrahmanirrahim.
Wa at-Tin, wa az-Zaitun. Wa Thursinin wa hadza al-Bilad al-Amin. Laqad Khalaqna

al-Insan fi Ahsan Taqwim (Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang. Demi buah Thin dan Zaitun, dan Demi Bukit Thursina dan Demi Negeri
(Makkah) yang aman ini. Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam
bentuk yang terbaik.”

Ia kemudian berkata: “Wahai Amirul Mukminin, berdasarkan ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa manusia adalah makhluk yang terbaik, tidak ada satupun makhluk lain yang mengunggulinya.”
Jawaban tersebut sangat menyentak sang Khalifah sehingga meskipun berbeda
dengan seluruh ulama yang hadir ia memilihnya sebagai keputusan.

Ia kemudian menyampaikan kepada Isa al-Hasyimi bahwa keputusannya seperti yang
disampaikan oleh ulama tadi, talak tidak jatuh karena istrinya jauh lebih baik dari
rembulan. Isa al-Hasyimi diperintahkan agar segera kembali kepada istrinya sambil
dititipi selembar surat yang berisi pesan kepada istrinya agar taat kepada
suaminya, jangan durhaka dan talak belum jatuh kepadanya.

Demikianlah, betapa agungnya Surah at-Tin ini dan betapa bercanda perlu diibatasi.
Wallahu a’lam.(**)

Berita-Terkait

Leave a Comment

error: Content is protected !!