Oleh : Muslimin.M
Akhirnya benar juga, Sri Mulyani diganti. Bukan karena defisit. Bukan karena gagal.Justru karena terlalu berhasil.Terlalu dipercaya dunia. Terlalu ditakuti lawan politik.
Pasar langsung gemetar. Rupiah seperti tersedak. Bursa saham tiba-tiba pilek. Investor mulai batuk-batuk.
Tapi di warung kopi, reaksinya berbeda.
Malam itu, warung kopi di ujung gang ramai seperti biasa. Bangku kayu, meja penuh bekas gelas dan abu rokok. Aroma kopi panas memenuhi udara, bercampur suara sendok mengaduk gula.Topik malam itu hanya satu, Sri Mulyani dicopot.
“Eh, dengar-dengar Sri Mulyani dicopot ?” seru Pak RT sambil menghirup kopi.
“Lha iya. Wong dia tidak bisa diajak main-main,” celetuk Udin, si tukang parkir.
Sopir ojek ikut nimbrung,
“Yang heran saya, salahnya apa ? Ekonomi masih stabil, utang aman. Harga beras naik ? Ya wajar. Tapi kursi dia yang naik turun itu baru masalah politik.”
Obrolan semakin serius.
“Bu Sri itu terlalu lurus,” kata Pak RT. “Dia pegang APBN kayak pegang dompet sendiri.Tidak mau ada titipan. Politisi nggak suka orang lurus. Mereka sukanya yang belok-belok.”
“Betul!” sahut Udin. “Di jalan belok-belok yang lurus biasanya ditabrak.”
Lalu celetukan lain muncul,
“Kalau Sri Mulyani diganti karena terlalu jujur, berarti yang naik nanti pasti yang pintar apa..?”
Warung kopi pun sejenak hening. Hanya suara sendok mengaduk gelas.
Pak RT memecah suasana,
“sudahlah, menteri siapa pun, toh harga kopi sachet tetap naik.”
Begitulah malam itu warung kopi kembali normal.Topik politik boleh ramai, tapi kenyataan sehari-hari tetap sama, kopi panas, rokok, dan tawa yang pahit tapi jujur.
*tiba-tiba diganti*
Alasannya bisa dibuat rapi, penyegaran kabinet, kebutuhan negara atau bahkan karena kebutuhan politik. Tapi publik melihatnya berbeda. Reshuffle di kementerian lain mungkin bisa dianggap rutinitas. Di kursi Menkeu, itu lain cerita.
Inilah posisi yang selalu menjadi korban tarik-menarik politik. Setiap angka dalam APBN bukan hanya angka. Itu adalah peta kepentingan. Dari subsidi sampai utang luar negeri. Dari proyek infrastruktur sampai dana bansos. Semua ada kepentingannya. Semua ada yang berebut.
Dan Sri Mulyani dikenal keras.Terlalu keras bagi sebagian orang. Dia memangku APBN seperti dompet pribadinya, ketat, kadang menyebalkan banyak kalangan.Tapi justru itu yang membuat pasar percaya.
Kini, kursi itu akan diisi orang baru. Pertanyaannya, siapa yang cukup kuat menahan gempuran politik, sambil tetap dipercaya dunia internasional ? sepertinya ini sulit dijawab.
Kita tahu, krisis global sedang didepan mata. Inflasi dunia belum benar-benar reda. Suku bunga Amerika masih tinggi. Perlambatan ekonomi Tiongkok bisa menular. Disaat seperti ini, pergantian menkeu lebih dari sekadar reshuffle, bisa jadi penentu apakah Indonesia stabil atau goyah.
Rakyat tentu tidak menghitung angka defisit. Rakyat hanya tahu harga beras naik, harga minyak goreng tidak turun-turun. Bagi rakyat, siapa pun menterinya yang penting dapur tetap mengepul.Tapi politik selalu punya cara untuk masuk ke dapur itu.
Sri Mulyani adalah sosok langka, teknokrat yang dihormati lintas rezim. Pernah dipercaya Presiden SBY, kemudian kembali dipanggil Jokowi, dan bertahan melewati masa-masa sulit pandemi. Reputasinya tidak hanya domestik, lembaga internasional pun menyebut namanya sebagai penjaga stabilitas di Asia Tenggara.
Pertanyaan besar yang berkembang saat ini, bukan lagi sekadar siapa menteri keuangan pengganti sri mulyani, tetapi kemana arah ekonomi Indonesia lima tahun ke depan? Apakah disiplin fiskal akan tetap menjadi fondasi?, ataukah kita sedang memasuki era baru dimana ekspansi politik lebih menentukan daripada neraca negara ?
Sri Mulyani sudah keluar dari kabinet, tetapi gaung namanya belum akan hilang. Dia akan dikenang sebagai simbol kredibilitas, mungkin juga sebagai pengingat bahwa dalam politik, kalkulator tidak selalu lebih kuat dari mikrofon.(*)
