Oleh : Safardy Bora
Maulid Nabi Muhammad Saw bukan sekadar perayaan kelahiran, melainkan kesempatan untuk menyalakan kembali pelita ingatan. Kita mengenang seorang manusia agung yang pernah menuntun umat dari gelap menuju terang. Dalam ingatan itulah, kita belajar satu hal penting: jangan pernah melupakan orang yang pernah menolongmu.
Al-Qur’an mengingatkan, “Dan janganlah kamu melupakan keutamaan di antara kamu” (QS. Al-Baqarah: 237). Ulama menafsirkan, ayat ini bukan hanya soal kebaikan dalam rumah tangga, tetapi juga pesan universal agar kita menghargai jasa sesama. Rasulullah Saw pun bersabda, “Siapa yang tidak berterima kasih kepada manusia, maka ia tidak bersyukur kepada Allah” (HR. Ahmad).
Melupakan kebaikan orang lain berarti menutup mata terhadap jejak kasih sayang Allah yang hadir lewat tangan manusia. Kita sering lalai, merasa semua pencapaian lahir dari diri sendiri, padahal ada doa ibu yang tidak pernah putus, ada uluran tangan sahabat, ada guru yang sabar menuntun, bahkan ada orang asing yang mungkin sekali saja hadir, namun memberi arti sepanjang hidup.
Dalam suasana maulid, mari kita sejenak menunduk. Mengingat siapa saja yang pernah menjadi sebab kita tegak berdiri hari ini. Mengirimkan doa untuk mereka yang telah tiada, dan menghadirkan terima kasih yang tulus bagi yang masih hidup. Karena syukur tanpa ingatan hanyalah kata, sedangkan syukur dengan ingatan adalah cahaya.
Semoga peringatan maulid ini menjadikan hati kita lembut, pandangan kita jernih, dan langkah kita ringan untuk tidak melupakan siapa pun yang pernah menjadi jalan kebaikan bagi hidup kita.(*)
Wallāhu a‘lam.
