Oleh : Muslimin.M
Saya sering mendengar stigma tentang ASN di masyarakat *kerja santai, gaji pasti* dan masih begitu melekat dan saya juga sering mendengar keluhan masyarakat tentang lambannya pelayanan, kurangnya responsivitas, dan minimnya semangat melayani. Padahal, ASN adalah tulang punggung birokrasi, wajah pertama yang kita temui saat berhadapan dengan negara.
Saya menilai bahwa produktivitas ASN bukan semata tentang berapa jam duduk di kantor.Tapi sejauh mana bisa memberikan manfaat nyata lewat pekerjaannya. Sayangnya, masih banyak ASN yang bekerja hanya untuk menggugurkan kewajiban, bukan untuk menyelesaikan masalah.
Saya tidak ingin menggeneralisasi. Saya yakin masih banyak ASN yang bekerja dengan dedikasi dan integritas tinggi. Tapi, fakta menunjukkan bahwa yang seperti ini justru sering “kelelahan sendiri” dalam sistem yang tidak mendukung produktivitas. Budaya kerja birokrasi kita masih belum sehat, penuh formalitas, minim evaluasi berbasis kinerja, dan cenderung mentolerir ketimpangan beban kerja.
Saya melihat bahwa digitalisasi birokrasi belum menyentuh akar masalah. Banyak platform dibuat, sistem diperkenalkan, tapi kadang tidak dibarengi dengan peningkatan kapasitas SDM.Teknologi jadi sekadar alat pelengkap, bukan pendorong perubahan. ASN yang gagap teknologi justru semakin terbebani.
Lalu, siapa yang bertanggung jawab?
Dalam pemikiran saya bahwa kuncinya ada pada kepemimpinan dan keberanian untuk mengubah budaya kerja. Pemimpin instansi bukan hanya harus cerdas secara administratif, tapi juga mampu menjadi role model dan inspirator. ASN butuh pemimpin yang menuntut hasil, tapi juga adil dan membimbing.
Saya meyakini produktivitas ASN bisa ditingkatkan, asalkan ada kemauan serius untuk memperbaiki sistem. Penilaian kinerja harus dibuat transparan dan obyektif.Tunjangan harus berdasarkan capaian, bukan sekadar kehadiran. Yang bekerja dengan sungguh-sungguh harus diberi ruang dan penghargaan, bukan malah tenggelam dalam sistem yang permisif.
Paradigma stagnan
Apa arti *produktif* bagi ASN ? Apakah sekadar kehadiran fisik dan tuntasnya tugas administratif ? Ataukah hasil nyata yang dirasakan oleh masyarakat yang menjadi tujuan utama pelayanan ? Nyatanya, selama ini ukuran produktivitas lebih sering diukur dari kuantitas kehadiran dan pelaporan, bukan dari dampak kerja yang konkrit dan inovatif.
Birokrasi yang membebani dengan prosedur yang rumit dan tumpang tindih justru menjadi batu sandungan utama. ASN terperangkap dalam siklus aman di zona nyaman, takut mengambil risiko dan melangkah keluar dari kebiasaan lama yang melekat. Rapat tanpa ujung, formulir yang berlapis, dan budaya takut salah lebih dipilih daripada kreativitas dan keberanian berinovasi.
Digitalisasi yang diharapkan menjadi angin segar malah kadang berubah menjadi beban baru bagi ASN yang minim pelatihan dan dukungan. Teknologi tidak dapat mengangkat produktivitas tanpa perubahan budaya kerja yang mendasar.
Jika birokrasi ingin benar-benar berubah, produktivitas ASN harus diartikan ulang yaitu dari sekadar rutinitas kehadiran menjadi hasil kerja yang nyata, berani, dan berdampak. Kepemimpinan yang tegas, akuntabilitas yang ketat, dan ruang untuk inovasi harus menjadi fondasi perubahan.
Ketika birokrat takut mengambil risiko, malas belajar hal baru, dan lebih mementingkan formalitas daripada substansi, maka produktivitas hanyalah jargon kosong. Rapat tanpa agenda jelas, pencatatan administrasi yang menumpuk, serta mentalitas *asal aman* jadi penghalang utama kemajuan.
Saatnya pemerintah dan seluruh elemen mengakui bahwa produktivitas ASN tidak akan meningkat hanya dengan peraturan baru, imbauan moral semata. Butuh revolusi budaya kerja, kepemimpinan yang berani menegakkan akuntabilitas, memberi ruang bagi inovasi, dan menghargai kinerja nyata bukan kehadiran fisik.
Kalau tidak, jangan kaget kalau birokrasi kita tetap menjadi birokrat yang tidak jelas arah, tak berujung yang membuat publik kecewa, dan ASN sendiri kehilangan makna pengabdian yaitu sebagai abdi negara yang melayani masyarakat.(**)
