BALIKPAPAN.SUMBU BORNEO.ID — Perekonomian Kalimantan Timur terus menunjukkan tren positif. Daerah ini tak lagi sepenuhnya bertumpuk pada tambang batu bara yang selama ini menjadi penopang ekonomi Kaltim. Kini, Kaltim bergerak pada industri pengolahan.
Diketahui, industri pengelohan merupakan sektor yang sangat penting bagi perekonomian Indonesia. Sektor ini telah memberikan kontribusi besar pada Produk Domistik Bruto (PDB) seperti industri makanan dan minuman, tekstil, otomotif, elektronik, serta kimia.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kalimatan Timur Budi Widihartanto mengungkapkan, pada triwulan II tahun 2025, pertumbuhan ekonomi Kaltim tercatat sebesar 4,69 persen (year-on-year), meningkat dari 4,08 persen pada periode sebelumnya.
Peningkatan ini, sebut Budi terutama didorong oleh pertumbuhan industri pengolahan yang tumbuh signifikan sebesar 15,12 persen, seiring meningkatnya aktivitas di kawasan industri dan kawasan ekonomi khusus (KEK) di wilayah Kaltim.
” Pertumbuhan ekonomi Kalimantan Timur pada triwulan II 2025 mencapai 4,69 persen, lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya. Pendorong utamanya berasal dari industri pengolahan yang terus mengakselerasi pertumbuhan ekonomi daerah,” kata Budi,dilansir niaga asia, pada kegiatan Mahakam Investment Forum (MIF) 2025 di Hotel Novotel Balikpapan, Kamis 9 Oktober 2025.
Disebutkan, struktur perekonomian Kaltim masih didominasi oleh lapangan usaha pertambangan dengan pangsa sebesar 34,11 persen. Namun demikian, kontribusinya terus menurun karena mulai tergeser oleh sektor lain seperti industri pengolahan (20,33%), konstruksi (11,48%), pertanian (9,65%), dan perdagangan (7,54%).
Budi menilai bahwa investasi menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Kaltim. Kontribusi PMTB terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) mencapai 35,47 persen, dengan tingkat korelasi antara PMTB dan realisasi investasi mencapai 90 persen.
“Artinya, semakin kuat pembangunan infrastruktur di Kaltim, semakin tinggi pula potensi peningkatan investasi dan pertumbuhan ekonomi di wilayah ini,” ujarnya.
Menurutnya, Kalimantan Timur memiliki peran strategis dalam mendukung target nasional Presiden Prabowo Subianto untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 8 persen. Karena itu, BI menilai Kaltim sebagai salah satu tulang punggung ekonomi nasional ke depannya.
Selain itu, Dia juga menyoroti peran Regional Investor Relation Unit (RIRU) Kaltim yang terus berkomitmen memperkuat ekosistem investasi daerah, mulai dari penjaringan potensi proyek (Profiling Investasi Kalimantan Timur atau PIKAT) hingga promosi proyek siap investasi (Investment Project Ready to Offer atau IPRO).
BI Kaltim juga telah menerbitkan “Presentation Book”, dokumen berisi profil ekonomi dan potensi investasi daerah yang menjadi referensi utama bagi calon investor.
Mahakam Investment Forum (MIF) 2025 sendiri mengusung tema “Trade, Tourism, Investment, and Industry: Enhancing East Kalimantan Economic Transformation”,.
Adapun 4 pilar utama dalam MIF yaitu Investment, yakni promosi proyek investasi strategis termasuk di kawasan IKN. Kemudian Trade, perluasan akses pasar dan ekspor. Selanjutnya Industry, pengembangan KEK dan kawasan industri menuju transisi ekonomi hijau. Serta Tourism, pembukaan peluang investasi pariwisata berkelanjutan.
“Melalui MIF, kami mempertemukan pemerintah, pemilik proyek, dan calon investor untuk memperluas jejaring investasi, dan mempercepat realisasi proyek-proyek strategis di Kalimantan Timur,” pungkasnya.(*)
