MALUT.SUMBU BORNEO.ID- Pertumbuhan ekonomi Maluku Utara triwulan ke III telah mencapai 39.10 persen dan merupakan daerah tertinggi ekonominya di Indonesia.
Lantas apa kata Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, terkait ekonomi Malut itu?
Sherly Djoanda menyebut, pertumbuhan ekonomi Maluku Utara yang mencapai angka tertinggi di Indonesia (bahkan dunia, hingga 39,10%) didorong oleh industri pengolahan nikel dan hilirisasi mineral.
Namun, ia menekankan beberapa poin penting terkait angka pertumbuhan tersebut.
Menurut Sherly, saatnya mewujudkan angka ke rasa. Ia ingin pertumbuhan ekonomi yang tinggi ini dapat dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat lokal, bukan hanya terlihat sebagai angka statistik yang besar.
Kendati, Sherly menyadari bahwa pertumbuhan saat ini sangat bergantung pada sektor ekstraktif (pertambangan) yang bersifat jangka pendek dan rentan.
Oleh karena itu, ia berjanji untuk melakukan diversifikasi ekonomi ke sektor lain yang lebih berkelanjutan seperti pertanian, perikanan, dan pariwisata.
Gubernur Maluku Utara ini juga menyoroti adanya ketimpangan karena fokus pembangunan yang terpusat pada tambang selama 15 tahun terakhir.
Kebutuhan bahan pangan lokal, sebut Sherly belum bisa dipenuhi oleh petani dan nelayan setempat, sehingga pasokan masih didatangkan dari luar daerah.
Sherly mengungkapkan, potensi ekonomi Maluku Utara masih terkendala oleh minimnya infrastruktur dasar dan rendahnya kesiapan tenaga kerja lokal untuk mengisi lapangan kerja di industri yang ada.
Secara ringkas, Sherly melihat pertumbuhan ekonomi yang tinggi ini sebagai sebuah berkah sekaligus tantangan untuk mewujudkan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan di masa depan.(*)
Diolah dari berbagai Sumber
