Oleh : Muslimin.M
Saya masih ingat dulu di kampung dimana guru adalah orang yang paling dihormati. Bahkan lebih dihormati daripada kepala desa. Kalau guru lewat, orang-orang menunduk. Kalau guru berbicara, orang-orang diam.
Sekarangpun guru tetap dihormati.Tapi hormatnya lebih banyak di pidato,
di baliho, di hari peringatan Hari Guru. Setelah itu ?
Lupa lagi.
Beberapa hari yang lalu, saya bertemu seorang guru. Umurnya hampir 50 tahun, sudah mengajar lebih dari dua puluh tahun. Rambutnya mulai memutih.Tapi wajahnya tetap ramah. Dia bercerita dengan santai. Tentang murid-muridnya yang makin banyak memegang ponsel daripada buku. Tentang kelas yang makin ribut.Tentang rapor yang makin rumit karena sistem online.Tentang gaji yang belum memberikan kesejahteraan.
Saya agak kaget dan prihatin mendengarnya. Gajinya hanya cukup untuk membayar listrik, air dan sedikit beras. Untuk ongkos anaknya kuliah, harus berhutang. Untuk membeli baju baru, menunggu Lebaran.
Padahal, di gedung-gedung tinggi Jakarta, banyak orang yang rapat setengah hari, lalu dapat honor setara sebulan gaji guru itu.
Saya menjadi teringat, bangsa ini sering mengucapkan kalimat “Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa”. Kalimat itu indah.Tapi juga agak mengelabui. Karena dengan kalimat itu, kita seperti punya alasan untuk tidak memberi jasa.
Di satu sisi, kita ingin pendidikan maju. Kita ingin murid cerdas. Kita ingin sekolah modern.Tapi di sisi lain, kita masih membiarkan guru bergaji rendah, seolah terlupakan.
Lalu, kita kaget ketika banyak anak lebih suka menjadi YouTuber daripada menjadi guru. Kita heran ketika mahasiswa pintar lebih memilih bekerja di bank, di perusahaan minyak daripada mengajar di sekolah.
Katanya bangsa besar adalah bangsa yang menghormati gurunya.Tapi saya kadang ragu dan setengah percaya. Jangan-jangan kita baru bangsa yang pandai berpidato, bukan bangsa yang sungguh-sungguh menghormati guru.
Kita sering lupa, dibalik slogan manis itu ada wajah muram. Ada guru honorer yang sudah puluh tahun mengajar tanpa kepastian.
Ada guru di pelosok yang berjalan kaki puluhan kilometer, demi bisa hadir di kelas. Ada guru yang menulis soal ujian dengan spidol pinjaman.
Di kota, wajah muram itu lain lagi. Bisa saja masih ada guru yang digaji Rp 300 ribu sebulan. Gaji itu bahkan tidak cukup untuk ongkos transportasi. Apalagi untuk membiayai anaknya sekolah.
Orang yang mendidik anak-anak kita, justru kesulitan mendidik anaknya sendiri.
Sementara itu, negara sibuk dengan prioritas lain. Gedung baru. Proyek mercusuar. Konferensi mewah. Laporan tentang kemajuan pendidikan yang lebih indah di kertas daripada di lapangan.
Kita tahu kualitas pendidikan buruk. Kita tahu peringkat kita di survei global rendah.
Tetapi kita jarang bertanya, bagaimana kualitas pendidikan bisa membaik kalau kualitas hidup gurunya saja diabaikan ?
Kita berbicara kurikulum baru.
Kita berbicara digitalisasi sekolah.
Kita berbicara kecerdasan buatan di ruang kelas.
Tapi siapa yang menjalankan semua itu ?
Guru.
Guru yang justru setiap hari dihantui ketidakpastian nasibnya sendiri.
Ada paradoks besar disini.
Bangsa ini ingin maju.
Tapi melupakan orang yang mestinya menjadi lokomotif kemajuan.
Guru hanya diingat saat upacara. Setelah itu dilupakan.
Jika guru terus dibiarkan terlupakan, siapa yang sebenarnya kita rugikan ?
Anak-anak kita.
Masa depan bangsa kita.
Kita bisa punya gedung tinggi, jalan tol panjang, bandara megah.
Tetapi kalau guru kita masih hidup dalam kemiskinan,
kita sedang membangun peradaban di atas pondasi rapuh.
Guru bukan sekadar profesi.
Guru adalah masa depan.
Dan masa depan itu tidak boleh dilupakan.(*)
