Oleh : Muslimin. M
Saya kadang heran dan tidak habis pikir. Mengapa lebaran tidak selalu datang bersama.Tahun ini terjadi lagi. Mungkin tahun depan begitu lagi.
Di satu rumah, takbir sudah menggema sejak malam.
Di rumah sebelah, masih ada yang menahan lapar menyempurnakan puasa hari ke-30. Padahal jalan yang sama, langit yang sama, lalu mengapa keyakinan hari rayanya yang berbeda !.
Dulu waktu saya masih kecil, saya mengira ini soal benar dan salah.
Setelah dewasa baru saya faham, ternyata ini hanya soal cara melihat langit.
Ada yang menunggu hilal. Mata menatap ufuk, berharap ada seiris cahaya tipis yang menjadi tanda. Ada yang cukup dengan hitungan hisab yang rapi, pasti, tidak perlu menunggu awan bergeser.
Keduanya sama-sama mencari kepastian.
Keduanya sama-sama ingin tepat.
Di negeri ini, perbedaan itu bukan hal baru. Setiap tahun selalu ada kemungkinan itu datang lagi. Kadang serempak, kadang tidak. Dan setiap kali berbeda selalu ada pertanyaan yang sama.
Yang mana ini yang benar ?
Saya tidak ingin lagi menjawab itu jika saya ditanya. Karena dibalik perbedaan itu, ada hal yang sering kita lupa yaitu tujuan akhirnya. Sama-sama ingin menyempurnakan ibadah. Kembali ke fitrah.
Saya pernah melihat satu keluarga yang cukup menarik. Ayahnya berlebaran lebih dulu. Ibunya menyusul sehari kemudian. Mereka tetap makan bersama.Tetap saling bermaafan.Tidak ada yang merasa lebih suci dari yang lain.
Lebarannya tidak serempak.
Tetapi hangatnya tetap utuh. Tetap harmonis.
Mungkin disitulah letak kedewasaan beragama. Bukan pada keseragaman hari, tetapi pada kemampuan menerima perbedaan tanpa kehilangan rasa hormat.
Langit memang satu.
Namun cara manusia membacanya bisa berbeda.
Dan lebaran sejatinya bukan tentang tanggal di kalender. Melainkan tentang hati yang sudah selesai dengan dendam, sudah lapang memaafkan dan sudah ringan untuk kembali menjadi manusia utuh.
Meski tidak di hari yang sama berlebaran.
*Mengapa lebaran tak selalu sama*
Setiap tahun pertanyaan itu selalu datang kembali.
Lebaran jatuh hari apa ?
Jawaban atas pertanyaan sederhana itu tidak selalu tunggal. Ada tahun-tahun ketika umat Islam merayakannya bersama. Namun tidak jarang pula Idulfitri hadir dalam dua tanggal yang berbeda dipisahkan oleh satu hari, tetapi cukup untuk memunculkan perdebatan panjang.
Akar persoalannya terletak pada metode penentuan awal bulan Hijriah. Pemerintah melalui Kementerian Agama menggunakan pendekatan kombinasi hisab (perhitungan astronomi dan rukyat atau observasi hilal). Keputusan akhir ditetapkan dalam sidang isbat yang melibatkan berbagai pihak, dari ormas Islam hingga ahli astronomi.
Di sisi lain, Muhammadiyah memilih menggunakan hisab dengan kriteria wujudul hilal. Metode ini memberi penetapan tanggal dilakukan jauh hari sebelumnya, tanpa menunggu hasil pengamatan langsung.
Perbedaan metodologi ini bukan hal baru sebetulnya. Sebab hal ini berakar pada perbedaan penafsiran terhadap teks keagamaan dan perkembangan ilmu pengetahuan. Dalam realitasnya faktor teknis seperti posisi bulan, ketinggian hilal, hingga kondisi cuaca turut memengaruhi hasil rukyat. Disinilah ruang perbedaan itu terbuka.
Namun diluar aspek teknis itu, bahwa fenomena ini mencerminkan dinamika sosial keagamaan di Indonesia. Negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia tidak memiliki otoritas tunggal dalam menentukan praktik ibadah. Keputusan pemerintah bersifat imbauan, sementara organisasi keagamaan memiliki otonomi dalam menetapkan sikap.
Situasi ini menimbulkan kebingungan ditingkat masyarakat. Ada keluarga yang merayakan lebaran lebih dulu, sementara anggota keluarga lain masih berpuasa. Meski demikian, perbedaan itu tidak selalu berujung konflik. Justru sebaliknya, menjadi bagian dari keseharian yang diterima oleh masyarakat.
Dalam konteks yang lebih luas, perbedaan Idulfitri menunjukkan bahwa praktik keagamaan tidak berdiri di ruang hampa. Kondisi ini dipengaruhi oleh sains, otoritas dan tradisi yang hidup di masyarakat. Keseragaman mungkin menjadi ideal, tetapi realitas menunjukkan bahwa keberagaman pendekatan tetap menjadi bagian dari kehidupan beragama di masyarakat.
Idul fitri sebagai simbol kolektivitas umat tidak sepenuhnya hadir dalam satu waktu yang sama. Namun tetap dimaknai bersama, meskipun tidak dirayakan secara serempak.
Di titik itu, saya memaknai bahwa perbedaan Idulfitri tidak lagi sekadar soal metode penentuan hilal. Akan tetapi menjadi refleksi dari bagaimana otoritas keagamaan, sains dan masyarakat berinteraksi tanpa menghasilkan kesepakatan yang final.(*)
