Oleh: Safardy Bora
Di negeri yang memberi ruang bagi suara rakyat, unjuk rasa adalah jalan yang sah. Ia bukan sekadar kerumunan di jalan, melainkan denyut nadi demokrasi—tempat orang-orang menyampaikan harap, kritik, dan kegelisahan.
Di tanah Kalimantan Timur, pada suatu hari Selasa, dua arus bergerak bersamaan. Yang satu jelas wajahnya: mahasiswa, datang dengan semangat intelektual dan tuntutan yang terarah. Yang lain, samar—tak bernama, tak beridentitas pasti.
Sejak pagi hingga siang menjelang, ratusan mahasiswa memenuhi halaman DPRD. Lalu bergeser ke kantor gubernur, membawa suara yang sama: meminta peninjauan atas kebijakan yang dianggap perlu diperbaiki. Orasi mereka tertata, argumen mereka terang. Tak ada amarah yang meledak, hanya tekad yang disampaikan dengan kepala dingin. Sebuah potret kedewasaan yang layak disematkan pada generasi penerus daerah.
Di dalam gedung, pemimpin daerah menyimak. Ada keinginan untuk berdialog, meski tak menemukan titik temu soal tempat dan situasi.
Aparat keamanan membaca keadaan dengan hitungannya sendiri, menjaga agar bara kecil tak berubah jadi api besar. Menjelang petang, mahasiswa perlahan meninggalkan lokasi. Tertib, sebagaimana mereka datang.
Namun cerita belum selesai. Di sisa waktu yang melewati batas, tersisa kelompok lain—lebih muda, lebih gelisah, dan tampak menunggu sesuatu.
Tanda-tanda itu sebenarnya telah muncul sejak sore. Upaya memancing keributan sempat ada, namun berkali-kali diredam oleh para koordinator aksi. “Satu komando,” seru mereka, menjaga barisan tetap utuh. Bahkan sebelum bubar, ada kesadaran untuk mengamankan aset dan memastikan pergerakan massa tetap terkendali.
Namun selepas senja, suasana berubah. Lemparan botol dan benda-benda kecil pecah di udara, seperti aba-aba yang tak terdengar tapi dipahami.
Gerakannya serempak, seolah telah dirancang sebelumnya. Bukan spontanitas, melainkan pola.
Aparat tampaknya telah mencium gelagat itu lebih awal. Peringatan demi peringatan terdengar, meminta orang-orang menjauh dari titik rawan. Ada kesan bahwa kerusuhan bukan kemungkinan—melainkan sesuatu yang sudah diperkirakan akan terjadi.
Lalu muncul pertanyaan yang menggantung di benak banyak orang: siapa yang bermain di balik bayang-bayang ini? Apakah kepentingan politik? Dendam lama? Atau sekadar mereka yang merasa terusik oleh perubahan?
Yang jelas, upaya untuk menyusup ke dalam aksi mahasiswa tak berhasil.
Mahasiswa tetap pada jalurnya—menyuarakan, bukan merusak. Namun setelah mereka pergi, panggung seakan diambil alih oleh tangan-tangan lain yang punya maksud berbeda.
Mungkin tujuan mereka sederhana: menciptakan kesan bahwa segalanya ricuh. Bahwa suara mahasiswa tak lagi murni. Bahwa Kaltim sedang gaduh.
Tapi bagi yang melihat dengan jernih, perbedaan itu nyata. Mana suara tulus yang ingin membangun, dan mana riuh yang hanya ingin menjatuhkan.(*)
