Sumbu Borneo

Kalimantan Timur: Indonesia Mini dalam Harmoni

Opini-SumbuBorneoID
Bagikan :

Oleh: Safardy Bora

Kalimantan Timur adalah lembaran besar sejarah Nusantara. Dari kerajaan-kerajaan tua Kutai hingga Kesultanan Pasir dan Berau, wilayah ini menjadi persinggahan dan rumah bagi berbagai peradaban. Laut, sungai, dan hutan membuka jalan pertemuan yang terus berulang: antara masyarakat lokal, pendatang, dan arus besar zaman.

Di tanah ini hidup suku Kutai, Berau, Paser, dan tentu saja Dayak yang menjadi salah satu identitas besar Kalimantan. Namun, seiring waktu, wilayah ini menerima tamu-tamu baru: orang Banjar dari selatan Kalimantan, Bugis, Makassar, dan Mandar dari seberang laut Sulawesi, serta arus migrasi Jawa, Toraja, Batak, Minahasa, Madura, Bali, Tionghoa, hingga Melayu. Mereka datang lewat jalan berbeda, namun tujuan sama: mencari ruang hidup, berdagang, menanam asa, bahkan sekadar menambatkan diri di tanah subur Kalimantan.

Kedatangan orang Bugis, Makassar, dan Mandar adalah salah satu kisah penting. Jalur laut menjadi urat nadi mereka. Sebagai pelaut ulung, mereka mengarungi Selat Makassar bukan hanya untuk berdagang rempah dan hasil bumi, tetapi juga untuk membangun permukiman, menjadi nelayan di pesisir, hingga membuka ruang ekspansi dagang dan budaya. Tak heran jika Samarinda, Balikpapan, hingga Bontang menjadi saksi jejak panjang komunitas Sulawesi Selatan ini. Seiring perjalanannya, etnis Mandar pun menguatkan keberadaannya di pesisir dan perkotaan Kalimantan Timur, melengkapi mozaik besar keragaman daerah ini.

Kini, wajah Kalimantan Timur bertambah istimewa dengan hadirnya Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara di Penajam Paser Utara dan sebagian Kutai Kartanegara. Perpindahan ini ibarat pepatah, dari asal kembali ke asal. Nusantara berdiri di jantung tanah yang sejak lama menjadi rumah pertemuan beragam suku, agama, dan budaya. Ia seakan mengulang sejarah: Kalimantan bukan sekadar latar, melainkan panggung utama Indonesia.

Tidak berlebihan jika Kalimantan Timur disebut “Indonesia mini”. Di sini, keberagaman etnis tak lagi sekadar statistik, melainkan realitas hidup sehari-hari. Orang Banjar berdampingan dengan Kutai, Dayak, Bugis, Mandar, Makassar, Jawa, Batak, Tionghoa, dan lain-lain. Di pasar, di masjid, di gereja, di sekolah, dan di ruang kerja, mereka saling menyapa tanpa jarak.

Kekuatan Kalimantan Timur terletak pada kerukunan itu. Perbedaan tidak membuat renggang, justru menjadi simpul perekat. Sebuah pelajaran bagi Indonesia: betapa kemajemukan bukan beban, melainkan rahmat. Maka, dengan hadirnya Nusantara sebagai ibu kota negara, semoga semangat rukun dan damai Kalimantan Timur menjadi teladan bagi seluruh negeri—bahwa Indonesia bisa besar bukan karena satu warna, melainkan karena keberagaman yang disatukan dalam harmoni.(**)

Berita-Terkait

Leave a Comment

error: Content is protected !!