OBROLAN POLITIK ALA WARUNG KOPI
Oleh : Muslimin.M
Kemarin saya mampir ke sebuah warung kopi kecil.
Warungnya sederhana, meja kayu, kursi plastik.
Tapi obrolannya, kelas nasional.
Di satu meja ada empat orang bapak-bapak
Satu bicara tentang harga pupuk.
Satu lagi tentang anaknya yang susah cari kerja.
Yang dua sisanya sibuk membicarakan politik.
Saya pura-pura membaca pesan di hp saya. Padahal, telinga saya menyimak.
Yang satu berapi-api, “Politik sekarang cuma rebutan kursi.”
Yang lain menyahut, “Ah, dari dulu begitu.”
Yang lain menambahkan, “Tapi mau bagaimana lagi, kita tetap harus milih.”
Saya tersenyum.
Itulah politik kita.
Dibenci, tapi dibicarakan.
Dicaci, tapi ditunggu.
Politik selalu hadir di warung kopi.
Tapi politik jarang hadir di dapur rakyat.
Harga beras, harga minyak, biaya sekolah semuanya nyata didapur.
Tapi jarang jadi nyata di meja rapat DPR.
Politik kita sibuk dengan panggung.
Sidang paripurna penuh teriakan.
Ada interupsi, ada walk out, ada meja dipukul.
Seperti drama Korea.
Bedanya di balik layar mereka bisa tertawa bareng, selfie bareng, bahkan tukar nomor WA.
Saya pernah melihat langsung dua tokoh yang saling serang di televisi.
Beberapa jam kemudian mereka duduk semeja di sebuah hotel.
Makan bersama. Ramah sekali.
Saya sempat tertegun.
Lalu sadar, memang begitulah politik.
Yang permanen bukanlah kawan. Bukan pula lawan.
Yang permanen hanyalah *kepentingan*.
Kalau perlu berubah, ya berubah.
Kalau perlu berbalik, ya berbalik.
Dan rakyat ?
Tetap menonton.
Tetap membayar tiket.
Tiketnya berupa pajak, berupa suara, berupa harapan.
Lucunya, rakyat kita tidak pernah berhenti berharap.
Meski sering kecewa, tetap datang ke TPS.
Tetap rela berbaris panjang dibawah terik matahari.
Tetap percaya, mungkin kali ini ada perubahan.
Itulah kelebihan sekaligus kelemahan rakyat kita.
Mudah percaya. Mudah memaafkan. Mudah lupa.
Hari ini marah, besok bisa tertawa lagi.
Hari ini kecewa, lima tahun kemudian bisa memilih orang yang sama.
Politisi tahu persis kelemahan itu, pandai memainkan kata.
Kata “rakyat” dipakai di mana-mana.
“Demi rakyat.”
“Untuk rakyat.”
Padahal, kadang rakyat hanya jadi kata sambung.
Di warung kopi, rakyat bicara soal beras dan pupuk.
Di gedung parlemen, politisi bicara soal kursi dan koalisi.
Kesenjangan itu makin lama makin lebar.
Tapi entah mengapa, rakyat tetap setia menonton.
Politik kita seperti sinetron panjang. Aktor bisa berganti. Kostum bisa berbeda.
Tapi naskahnya sama.
Dan episode baru selalu datang, tanpa ending.
Saya tidak tahu sampai kapan rakyat akan bertahan.
Tapi satu hal pasti,
Selama rakyat masih punya harapan, politik akan terus hidup.
Bukan karena politisinya hebat.
Tapi karena rakyat terlalu sabar.(*)
