Sumbu Borneo

KEBODOHAN YANG TERAWAT

Ilustrasi
Opini-SumbuBorneoID
Bagikan :

Oleh : Muslimin. M

Kebodohan itu tidak pernah mubazir.
Selalu punya tempat.
Bahkan sering mendapat kursi paling empuk.
Di kantor,
di jalan,
di rapat,
di sekolah,
di dunia digital.
Bahkan di dalam rumah tangga sendiri.
Dan kita sendiri yang menyiapkan tempat duduknya.

Di rapat. Kebodohan tampil lebih percaya diri.
Hadir lewat satu kalimat yang sangat terkenal,
“Kita tunggu arahan saja.”
Padahal, arahannya tidak akan datang. Karena yang menunggu bukan cuma rapat itu.
Seluruh kantor menunggu.
Bahkan negara ikut menunggu.

Kebodohan itu memang pandai menciptakan ilusi.
Ilusi bahwa tidak melakukan apa-apa adalah tindakan paling aman.

Saya pernah menyaksikan sebuah rapat tiga jam yang hanya menghasilkan satu kalimat,
“Dijadwalkan ulang.”
Tiga jam hanya untuk memindahkan hari.

Aneh.
Itu terjadi setiap hari
dibanyak tempat.
Dan tidak ada yang merasa aneh.

Di jalan raya. Kebodohan tidak pakai kemeja rapi. Tidak pakai gelar.
Tidak pakai map.
Hanya pakai klakson.

Pengendara itu menyerobot dari kiri, masuk trotoar, melawan arus dan marah ketika ditegur.
Dia merasa benar.
Karena terburu-buru.

Kebodohan itu memang punya logika sendiri.
Logika yang tidak mau kalah, tapi selalu kalah pikiran.

Di dunia digital.kebodohan tidak perlu berjalan.
Menyebar.
Seperti virus yang menemukan wifi gratis.

Grup keluarga adalah korban paling awal.
Berita palsu masuk jam 6 pagi.
Klarifikasi masuk jam 6 sore.
Dan yang dibaca hanya yang pagi.

Saya dulu pernah menegur seorang anggota grup. “Itu hoaks.”
Dia jawab santai, “Tidak apa-apa yang penting niatnya baik.”
Saya geleng-geleng kepala. Bukan karena setuju.
Karena kadang kebodohan seperti itu tidak bisa dilawan.
Harus dibiarkan lelah sendiri.

Saya juga bukan orang suci dan bersih.
Kebodohan pernah datang pada saya dan saya sambut.
Kadang saya percaya rumor yang tidak jelas.
Kadang saya setuju dalam rapat hanya supaya cepat selesai.
Kadang saya menunda membaca sesuatu yang penting.
Kadang saya ceroboh menilai sebelum memeriksa.

Kebodohan itu tidak tumbuh sendiri.
Kita yang menyiramnya.
Setiap hari. Sedikit-sedikit.
Dengan kemalasan.
Dengan rasa sungkan. Dengan kebiasaan lama. Dengan kalimat sudah dari dulu begitu.

Saya kadang membayangkan seandainya kebodohan itu tanaman, pasti tumbuh paling cepat.
Tidak perlu pupuk.
Tidak perlu matahari.
Tidak perlu irigasi.
Hanya butuh satu hal, pembiaran.

Dan itu, kita sangat ahli melakukannya.

Kapan kebodohan itu akan berhenti tumbuh ?
Ketika kita berhenti merawatnya.
Ketika seorang staf berani bertanya kenapa.
Ketika pengendara berhenti merasa paling penting.
Ketika grup keluarga berhenti bangga membagikan.
Ketika kita mau sedikit lebih repot.
Sedikit saja.

Kebodohan itu tidak kuat.
Hanya numpang hidup
di kenyamanan kita.

Dan selama kenyamanan itu tidak kita usik, maka akan tetap hidup.
Tumbuh.
Subur.

Seperti semak liar
di halaman rumah.
Yang tidak pernah kita potong.
Karena kita yakin, “Nanti saja”.

Kita yang pelihara pelan-pelan

Kebodohan jarang datang dengan cara dramatis.
Tidak muncul seperti banjir atau badai.
Masuk perlahan, sering lewat pintu yang kita buka sendiri, rasa yakin yang berlebihan, malas bertanya, dan keengganan mengakui bahwa kita tidak tahu.

Saya teringat suatu pagi
di sebuah warung kecil. Seorang anak muda berbicara lantang tentang banyak hal, tentang ekonomi, politik, bahkan pandemi.
Nada suaranya mantap, nyaris seperti dosen senior memberi kuliah umum.
Di depannya duduk seorang pria tua, mendengar tanpa menyela, hanya mengaduk kopi yang uapnya sudah mulai turun.

Ketika anak muda itu pergi, saya bertanya, “Bapak setuju dengan pendapatnya ?”

Pria tua itu tertawa, “Saya tidak sepenuhnya paham tadi dia bicara apa.
Dan anak muda yang terlalu yakin biasanya memang perlu bicara dulu sebelum belajar.”

Ucapan itu membuat saya penasaran. Bahwa kebodohan bukan hanya soal tidak tahu. Itu juga soal merasa sudah tahu segalanya.

Para ahli psikologi menyebut fenomena ini sebagai Dunning Kruger Effect sebuah kondisi dimana orang yang kurang kompeten justru merasa paling percaya diri.
David Dunning dan Justin Kruger  mengatakan bahwa semakin sedikit seseorang memahami sesuatu, semakin besar kemungkinan merasa menguasainya. Semakin dangkal pengetahuannya,
semakin keras suaranya.

Saya melihat itu terjadi dibanyak ruang, ruang rapat, ruang kelas, ruang publik, bahkan ruang digital yang gemuk oleh opini.
Semua ingin berbicara, sedikit yang ingin belajar.

Ahli sosiologi seperti Pierre Bourdieu menyebut bahwa kebodohan bisa menjadi produk sosial, tumbuh dari lingkungan yang tidak mendorong refleksi dan dialog kritis.
Masyarakat yang terjebak dalam kebiasaan berpikir cepat yang hanya mengulang apa yang populer akan cenderung mempertahankan kebodohan sebagai kebiasaan, bukan sebagai kekurangan.

Di sisi lain, psikolog kognitif Daniel Kahneman menjelaskan bahwa manusia lebih sering berpikir dengan sistem 1 yaitu cara berpikir cepat, instan dan emosional.
Daripada sistem 2 yaitu cara berpikir pelan, analitis dan melelahkan.
Kebodohan suka tinggal
di sistem 1. Betah disana. Tidak perlu bukti, tidak perlu proses. Cukup merasa benar.

Di warung itu, saya memandangi kembali kursi yang tadi ditempati anak muda itu.
Saya membayangkan betapa mudahnya mengakses informasi dari internet, namun betapa sulitnya menerima informasi yang berbeda dari keyakinannya.

Disitulah kebodohan itu tumbuh paling cepat. Bukan dari kurangnya data, melainkan dari ketidakmauan memperbarui keyakinan.

Ahli filsafat Karl Popper sudah lama mengingatkan bahwa pengetahuan hanya bisa berkembang jika manusia bersedia falsifikasi, bersedia diuji, dikritik, bahkan dibantah.
Tanpa itu, apa pun yang kita yakini hanya akan menjadi dogma.
Dan dogma adalah ruang favorit bagi kebodohan.

Kebodohan berjalan pelan, tapi konsisten.
Tumbuh dalam kebiasaan sehari-hari seperti malas membaca, menolak mendengar, membela pendapat yang salah hanya demi gengsi, merasa cukup tahu hanya karena menonton satu video pendek di media sosial.

Namun para ahli juga sepakat bahwa kebodohan bukan akhir dan bisa ditaklukkan.
Dengan apa ?
Bukan dengan gelar,
bukan dengan kecerdasan bawaan, melainkan dengan kerendahan hati intelektual, kesediaan untuk berkata,

“Saya belum tahu.”
“Saya bisa salah.”
“Coba jelaskan lagi.”

Dalam penelitian psikologi, sikap seperti ini disebut sebagai intellectual humanity, dan terbukti menjadi salah satu indikator paling kuat dari perkembangan pemikiran yang sehat.

Mungkin itu sebabnya, pria tua di warung itu tampak lebih tenang.
Tidak menghakimi.
Tidak menggurui. Membiarkan dirinya berada diposisi belajar, meski tidak mengatakan apa-apa.

Ketika saya hendak pergi,
Dia berkata pelan, “Banyak orang ingin dianggap pintar. Tapi sedikit yang benar-benar ingin menjadi pintar.”

Kalimat itu terasa seperti pintu kecil menuju kebenaran besar bahwa kebodohan bukanlah lawan kecerdasan, melainkan lawan kerendahan hati.

Dan selama manusia lebih memilih merasa benar daripada ingin memahami, maka kebodohan akan terus berjalan disamping kita, pelan, sabar dan penuh kesempatan untuk tumbuh.

Berita-Terkait

Leave a Comment

error: Content is protected !!