Sumbu Borneo

MEMANG PUTIH TAPI HATI-HATI

Ilustrasi
Opini-SumbuBorneoID
Bagikan :

Oleh : Muslimin.M

Saya tahu itu bukan beras biasa, tapi saya tetap beli.
Waktu itu saya sedang buru-buru ke pasar, pun setengah terpaksa. Langganan saya sedang tutup, akhirnya saya beli dari kios baru. Harganya lebih murah. Sekilo selisih seribu rupiah.Tidak banyak, tapi cukup membuat penasaran.

Kata penjualnya, “Ini lagi diskon, langsung dari gudang.”

Saya tidak curiga. Bungkusnya bagus. Warnanya putih. Lebih putih dari biasanya.

Saya masak malam harinya.
Yang pertama protes, anak saya. “Kok kayak bubur, Yah ?”

Saya coba cicip. Rasanya aneh. Teksturnya juga. Lembek tapi tidak pulen. Seperti nasi yang direndam semalaman.
Saya diam. Mungkin airnya kebanyakan.

Tapi malam berikutnya saya masak lagi.Takaran saya ubah.Tetap sama.

Nasi itu tidak bisa diajak kompromi.
Lalu saya ambil segenggam. Saya pelototi. Saya bandingkan dengan beras sisa lama.

Ada yang berbeda.Yang ini lebih mengkilap.Tapi juga lebih ringan. Seperti ada butiran plastik tipis di dalamnya. Saya remas. Ada yang pecah seperti tepung, ada yang tidak.

Saya mulai paham. Ini pasti beras oplosan.
Keesokan paginya saya tanya tetangga.Ternyata saya tidak sendiri. Mereka juga beli dari kios yang sama. Ceritanya sama. Rasanya aneh. Ada yang sampai sakit perut.
Kami lacak bersama.

Dan ketahuan, kios itu ternyata baru buka seminggu. Pemiliknya pendatang.Tapi suplai berasnya banyak sekali. Truk datang setiap dua hari. Kemasannya bagus. Ada label dan merek, bahkan ada nomor izin edar.Tapi kalau dilihat lebih saksama, semua itu palsu.

Saya jadi ingat percakapan dengan seorang teman lama. Dulu dia bekerja
di pabrik penggilingan padi. Sekarang buka usaha kecil-kecilan.

“Beras itu gampang diakali,” katanya. “Campur yang bagus dan yang jelek. Yang penting bungkusnya bagus, orang percaya.”

Dia bahkan bilang ada yang mencampur beras dengan batu apung halus. Ada juga yang pakai zat pemutih. Biar kelihatan bersih. Padahal racun.

Saya tidak percaya waktu itu.Tapi sekarang saya percaya. Setelah nasi
di rumah saya sendiri menolak untuk dimakan.

*Fenomena lama*

Fenomena beras oplosan bukan hal baru. Di sejumlah daerah, praktik mencampur beras berkualitas rendah dengan yang lebih bagus, bahkan bahan sintetis masih terjadi.Taktiknya bervariasi dari mencampur beras lama dengan yang baru, hingga menyemprotkan zat pemutih agar tampak bersih.

Ironisnya, sebagian besar praktik semacam ini terjadi di jalur distribusi yang tidak tersentuh pengawasan ketat. Pasar tradisional, desa-desa, hingga kios eceran di pinggir kota menjadi sasaran utama peredaran beras oplosan. Dan sengaja menghindari jalur ritel modern yang memiliki sistem pengecekan dan kontrol mutu.

Lebih mengkhawatirkan lagi, banyak pelaku usaha kecil yang terlibat hanyalah bagian kecil dari rantai pasokan yang lebih besar. Membeli dari distributor, gudang yang sudah lebih dulu mengoplos dan mengemas beras dalam karung-karung berlabel palsu. Ketika aparat turun tangan, kadang yang ditangkap hanyalah pedagang kecil, bukan aktor besar dibaliknya.

Kita juga perlu mengakui satu hal penting bahwa masyarakat kadang tergoda oleh harga murah tanpa memeriksa kualitas. Edukasi konsumen masih menjadi PR besar. Membeli beras bukan sekadar soal harga, tapi juga soal keamanan dan asal-usul. Karena apa yang kita makan hari ini, menentukan kesehatan kita di masa depan.

Dari permasalahan serius diatas, timbul pertanyaan besar, siapa yang harus bertanggung jawab ?, dan kehadiran negara dimana ?, apakah menunggu lebih banyak rakyat menjadi korban ?.

Beras seharusnya menjadi simbol kemurnian pangan di negeri ini.Tapi ketika yang putih pun ternyata bisa tercemar, kita perlu bertanya apa lagi yang masih bisa dipercaya ?, kemana lagi rakyat mengadu ?.(**)

Berita-Terkait

Leave a Comment

error: Content is protected !!