MAKASSAR,SUMBU BORNEO.ID– Dari 10 orang pelaku aksi unjuk rasa berujung kerusuhan dan pembakaran gedung DPRD Kota Makassar dan gedung DPRD Sulsel pada Jumat (29/8/2025) malam, hanya satu yang teridentifikasi masih berstatus mahasiswa, itupun ditangkap karena diduga melakukan provokasi ajakan unjuk rasa.
Hal tersebut diungkapkan oleh Kabid Humas Polda Sulsel, Kombes Pol Didik Supranoto saat dikonfirmasi wartawan pada Selasa (2/9/2025) sore. Meski belum diungkapkan identitasnya, mahasiswa itu disebut melakukan provokasi berupa ajakan untuk melakukan unjuk rasa lewat media sosial (medsos).
Adapun mahasiswa tersebut terancam dijerat pasal Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Didik juga belum mengungkapkan apakah mahasiswa tersebut sudah ditetapkan tersangka atau belum dikarenakan masih dalam proses pemeriksaan.
Didik menjelaskan, dari 10 orang yang diamankan itu memiliki peran masing-masing. Tiga orang diduga ikut terlibat melakukan aksi pengrusakan berujung pembakaran di gedung DPRD Sulsel, dan tujuh orang lainnya yang diduga melakukan hal sama di gedung DPRD Kota Makassar.
“Baru 10 orang. 10 yang diamankan di sini tiga orang yang di DPRD Provinsi, tujuh orang di DPRD Makassar,” terang Didik.
Adapun profesi para terduga pelaku yang diamankan itu berbeda-beda, bahkan satu diantaranya masih di bawah umur alias pelajar SMA berusia 17 tahun.
Selebihnya memiliki pekerjaan berbeda-beda, mulai dari buruh harian, petugas kebersihan, wiraswasta, hingga juru parkir (jukir).
“Ini ada yang buruh, satu orang di bawah umur pelajar dan yang lainnya dewasa. Pekerjaan ada yang buruh, macam-macam. Ada petugas kebersihan, buruh harian, ada mahasiswa satu, ada juru parkir, ada tidak bekerja, ada wiraswasta, ada pelajar SMA satu, umur 17 tahun,” ungkapnya.
Didik juga menegaskan, hingga sekarang ini pihaknya masih terus melakukan pemeriksaan intensif terhadap para terduga pelaku yang diamankan itu. Namun tidak menutup kemungkinan, kata Didik, di luar mahasiswa terancam dijerat pasal tentang Pencurian dan Pemberatan.
Sementara ini ada yang melakukan pengrusakan bersama-sama, pembakaran, kemudian ada 363 dan 362, pencurian dan pemberatan (penjarahan),” sebutnya.
Dalam proses penyelidikan insiden ini, Didik mengaku pihaknya sedikit terbantu dengan banyaknya live di lokasi kejadian. Sebagaimana diketahui, di berbagai platform media sosial saat peristiwa yang menelan korban jiwa hingga kerugian materil mencapai miliaran itu terjadi, banyak masyarakat yang mengabadikan hingga live di TikTok maupun Instagram.
“Iya salah satunya itu (live tiktok yang membantu pengungkapan pelaku),” bebernya.
Hingga sekarang ini, pemeriksaan di Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) masih terus berlangsung. Termasuk dua orang yang diamankan saat kerusuhan disertai pengrusakan gedung DPRD Kota Palopo.
“Sekarang masih dilakukan pemeriksaan semua. Yang dua orang di Kota Palopo (juga sementara diperiksa). (pasal) 170 pengrusakan secara bersama sama itu, (termasuk pembakaran), sementara itu pasalnya,” kuncinya.
Untuk diketahui, dalam insiden kerusuhan Jumat malam hingga Sabtu dini hari di Kota Makassar, bukan hanya gedung pemerintahan yang terbakar, tapi juga puluhan kendaraan, bahkan nyawa ikut melayang.
Pada insiden kebakaran gedung DPRD Kota Makassar, tiga nyawa melayang karena terjebak saat api melalap gedung tersebut. Mereka yang jadi korban yakni dua orang staf dewan, Muh Akbar Basri (26) dan Syahrina Wati (25), sementara satu korban lainnya adalah Plt Kasi Kesra Kecamatan Ujung Tanah, Muh Saiful Akbar (46).
Selain itu, ada juga 67 mobil dan 15 sepeda motor habis terbakar, dengan totol kerugian diperkirakan mencapai Rp 250 miliar.
Bukan itu saja, selama kerusuhan berlangsung beberapa fasilitas umum lainnya di beberapa titik Kota Makassar juga dilaporkan dirusak oleh massa. Seperti dua pos polisi, dan dua mobil yang terparkir di halaman Gedung Kejati Sulsel, Jalan Urip Sumoharjo.
Bahkan di wilayah tersebut, salah seorang pemuda yang berprofesi sebagai ojek online (Ojol) turut menjadi korban, namanya Rusdamdiansyah alias Dandi (26). Korban tersebut dilaporkan tewas setelah menjadi sasaran pengeroyokan oleh sekelompok massa karena diduga aparat atau intel.(na/sb)
