Sumbu Borneo

DIA BERDIRI DI TENGAH JALAN

Ilustrasi
Opini-SumbuBorneoID
Bagikan :

Oleh : Muslimin.M

Saya melihatnya dari jendela mobil. Mereka berdiri, berjejer ditengah jalan.
Tangannya mengepal. Suaranya lantang.

Itu mahasiswa, masih muda-muda.Tapi suaranya keras. Lebih keras dari politisi.
Lebih jujur dari iklan di televisi.

Saya pernah muda.Tapi tidak seberani itu.
Mungkin karena zaman saya berbeda.
Mungkin juga karena saya terlalu penakut.

Mereka berteriak soal keadilan. Soal harga diri. Soal masa depan.
Saya tidak tahu apakah mengerti semua yang diteriakkan itu.
Tapi saya tahu mereka sedang belajar.

Belajar memperjuangkan sesuatu.
Belajar melawan ketidakpedulian.
Belajar tidak diam.

Saya tidak terkejut sebab
mahasiswa sejak dulu memang selalu menjadi ujung tombak perubahan dan penggerakan moral bangsa. Mereka bukan sekadar penonton dalam perjalanan demokrasi, tapi aktor utama yang berani menantang status quo.

Semangat memang penting. Tanpa itu, tidak ada yang berani turun kejalan. Akan tetapi, semangat tanpa pemahaman bisa menjadi bumerang. Di era digital ini, demonstrasi kadang berubah bentuk menjadi sebuah pertunjukan, sebuah konten yang harus viral agar mendapat perhatian.

Saya khawatir bahwa dalam prosesnya, esensi perjuangan terkadang tereduksi menjadi sekadar keramaian. Poster yang menarik, kata-kata bombastis, orasi yang menggelegar, semua itu mudah didapatkan.Tapi apakah semua itu diimbangi dengan argumen yang kuat ?, data yang jelas dan strategi yang matang ?

Saya pernah menjadi mahasiswa yang turun ke jalan. Saya tahu, sebelum berteriak, kami membaca undang-undang, berdiskusi panjang malam-malam dan memahami konsekuensi yang akan dihadapi. Kami tidak sekadar menyuarakan kemarahan, tapi juga menawarkan solusi dan gagasan.

Zaman berubah dan tantangan yang dihadapi mahasiswa pun kian kompleks. Politik yang semakin pragmatis, kebijakan yang sarat kepentingan, serta dinamika sosial yang cepat berubah menuntut gerakan mahasiswa untuk beradaptasi.

Dan adaptasi bukan berarti kehilangan arah. Saya melihat bahwa keberhasilan sebuah gerakan mahasiswa terletak pada tiga hal :

pertama, kedalaman intelektual, konsistensi gerakan, dan keterhubungan dengan rakyat.

Kedalaman intelektual adalah fondasi. Sebelum turun ke jalan, mahasiswa harus benar-benar paham isu yang diperjuangkan. Membaca, menganalisis, dana berdiskusi harus menjadi bagian dari proses. Dengan pemahaman ini, tuntutan bukan hanya teriak kosong, melainkan argumentasi yang berdasar dan kuat.

Kedua, konsistensi gerakan sangat penting. Demo bukan akhir, tapi awal dari perjuangan panjang. Setelah turun ke jalan, perlu ada upaya advokasi yang berkelanjutan, dialog dengan pemangku kebijakan, serta pengawalan hasil perjuangan. Tanpa ini, demo akan menjadi euforia sesaat yang cepat hilang.

Ketiga, keterhubungan dengan rakyat harus dijaga. Mahasiswa tidak boleh menjadi kelompok elitis yang jauh dari masyarakat. Narasi harus dibumikan, agar mudah dipahami dan dirasakan oleh masyarakat luas.

Risikonya

Jika ketiga aspek ini diabaikan, risiko terbesar adalah hilangnya kepercayaan rakyat. Rakyat mulai skeptis, menganggap demo mahasiswa hanya sekadar ajang gaduh tanpa hasil konkret. Pemerintah pun bisa saja bersikap acuh, menganggap gerakan mahasiswa sebagai *gangguan* tanpa arti.

Padahal, sejati nya mahasiswa adalah harapan bangsa, penjaga moral yang bisa mendorong perubahan. Jika mahasiswa gagal menjaga kepercayaan itu, maka suara nurani rakyatpun ikut teredam.

Saya ingin mengingatkan bahwa demo mahasiswa bukan hanya soal berteriak di jalanan. Demo adalah manifestasi tanggung jawab. Tanggung jawab itu harus berlanjut ke ruang-ruang perdebatan, meja-meja pembahasan kebijakan dan media massa.

Saya percaya, ditengah gemuruh dunia yang penuh distraksi ini, masih banyak mahasiswa yang tulus dan cerdas. Yang tidak hanya turun karena ikut tren, tapi karena sadar bahwa mereka memikul beban besar untuk masa depan bangsa.

Dan harapan nya bahwa para mahasiswa mampu menjaga idealisme tanpa kehilangan rasionalitas. Berani menantang tanpa kehilangan empati.Turun ke jalan bukan untuk menimbulkan gaduh, tapi untuk membuka dialog dan memperjuangkan keadilan.

Dalam demokrasi, suara mahasiswa sangat berharga.Tapi suara itu harus bermakna. Harus berdasar. Harus punya arah.

Saya percaya, perubahan sejati lahir dari kepala yang cerdas dan hati yang tulus. Jika mahasiswa bisa membawa keduanya, saya yakin akan menjadi kekuatan pendorong yang mampu membawa bangsa ini ke arah yang lebih baik.(*)

Berita-Terkait

Leave a Comment

error: Content is protected !!