Sumbu Borneo

RAKYAT DAN DPR

Ilustrasi
Opini-SumbuBorneoID
Bagikan :

Oleh : Muslimin. M

Saya pernah berkunjung ke gedung DPR.Tidak sedang rapat.Tidak juga audiensi. Hanya ingin melihat dari dekat tempat orang-orang yang katanya mewakili rakyat.

Gedungnya megah. Halamannya luas. Parkirannya penuh mobil mahal. Di dalamnya, kursi empuk, karpet tebal, lampu gantung besar menggantung di langit-langit tinggi. Pemandangan dari jendelanya langsung ke taman yang hijau.

Tapi saya tidak melihat rakyat disitu.

Yang saya lihat orang-orang berseragam, petugas, staf ahli, dan anggota dewan yang berjalan cepat sambil membawa map tebal, kadang wajahnya serius, kadang justru terlihat santai seperti mau rapat arisan.

Saya bertanya dalam hati, apakah mereka masih ingat siapa yang memilih nya ?

Atau, setelah duduk di kursi empuk itu, suara rakyat menjadi sekadar gema samar di kejauhan ?

DPR, secara teori adalah wakil rakyat. Tapi di banyak kesempatan, terasa lebih seperti wakil partai atau lebih buruk lagi, wakil kepentingan sendiri.

Rakyat menjerit karena harga beras naik. DPR membahas rancangan undang-undang yang rakyat pun tak tahu isinya.

Rakyat ingin keadilan. DPR sibuk berebut posisi di alat kelengkapan dewan.

Rakyat antre di puskesmas. Anggotanya antre kunjungan kerja.

Rakyat memilih dengan penuh harap, tapi setelah terpilih, harapan itu seperti digantung tinggi-tinggi di langit Senayan.

Saya pernah ngobrol dengan tukang parkir di dekat DPR.
“Pak, sering lihat anggota DPR ?” tanya saya.

Tukang parkir itu tertawa. “Lihat mobilnya, iya. Orangnya ? Kadang-kadang. Turun juga cepat, langsung masuk, nggak sempat dengar suara rakyat di luar.”

Kalimat itu sederhana, tapi menohok.

Kadang yang tidak sekolah tinggi justru bisa merangkum keadaan dengan sangat jernih.

DPR ada di dalam gedung, rakyat di luar pagar. Secara fisik pun memang dipisah. Tapi yang menyedihkan secara emosional dan sosial, jaraknya juga semakin jauh.

Tentu, tidak semua anggota DPR seperti itu. Ada yang bekerja diam-diam. Serius mengawal isu penting.Tidak sibuk tampil di media, tapi sibuk menyusun pasal dan turun ke konstituen.

Tapi yang bekerja diam-diam kalah oleh yang bersuara keras.Yang duduk manis lebih cepat dikenal daripada yang kerja keras.

Karena di dunia politik hari ini, kamera kadang lebih penting daripada kerja.

Hubungan DPR dan rakyat seharusnya seperti sahabat. Dekat. Saling dengar. Saling percaya.

Tapi kini terasa seperti hubungan antara pelanggan dan layanan pelanggan yang sibuk telpon dijawab oleh mesin, keluhan dicatat tapi tak pernah ditindak, dan di akhir pembicaraan, hanya ada permintaan maaf yang terdengar formal, “Terima kasih atas masukannya, akan kami pertimbangkan.”

Lima tahun kemudian, rakyat disapa lagi. Dengan senyum manis. Dengan baliho besar. Dengan janji baru.

Seperti mantan yang kembali, mengaku sudah berubah.
Dan anehnya, kita percaya lagi. Dan percaya lagi.

Tapi salahkah kita ?

Tentu Tidak.
Karena yang memilih dengan harapan, bukan berarti bodoh.Justru itu tanda bahwa rakyat belum menyerah pada demokrasi.

Bahwa kita masih percaya, bahwa satu suara kita punya arti. Tapi jika kepercayaan itu terus diabaikan, jangan salahkan rakyat jika suatu saat nanti benar-benar berhenti peduli.

Dan saat rakyat sudah berhenti peduli, demokrasi benar-benar dalam bahaya.
Maka, kepada para wakil rakyat, saya ingin sampaikan satu pesan sederhana,

Gedung DPR memang tinggi, megah.Tapi jangan sampai penghuninya tuli.

Karena suara rakyat mungkin pelan, tapi kalau terus diabaikan, bisa berubah menjadi teriakan. Dan teriakan itu, kalau sudah terlalu lama dipendam, bisa meledak jadi amarah.
Dan ketika itu terjadi, tidak ada karpet tebal yang bisa meredam langkah kaki rakyat yang marah.

Demokrasi bukan tentang siapa yang duduk, tapi tentang siapa yang mendengar. Dan rakyat tidak butuh pejabat yang pintar bicara, tapi wakil yang tahu cara mendengar.(**)

Berita-Terkait

Leave a Comment

error: Content is protected !!