Oleh: Muslimin.M
Saya pernah mendengar percakapan orang tua siswa,”Nilai rapor bisa bagus, ranking bisa tinggi. Tapi apakah itu berarti anak kita benar-benar sedang belajar “,?
Percakapan orang tua siswa ini saya dengar saat saya singgah di salah satu sekolah SMA dimana para orang tua siswa lagi menunggu rapat pembagian rapor. Dan saya pun menyempatkan diri berbincang dengan seorang siswa SMA yang nilainya nyaris sempurna, peringkat dua besar
di sekolah itu.Tapi saat saya tanya apa yang diinginkan setelah lulus, dia menjawab pelan “nggak tahu Om.”
Saya bertanya lagi “Kalau tidak ada ujian, kamu tetap belajar matematika ?”
Dia pun menjawab jujur, “Ya nggak, lah om. Ngapain ?”
Jawaban polos itu justru membuka kenyataan pahit bahwa sistem pendidikan kita masih lebih fokus pada hasil akhir berupa nilai, ranking daripada proses memahami dan mencintai ilmu. Sekolah menjadi tempat menghafal, bukan tempat bertanya.
Apakah arah Pendidikan sudah hilang ?
Dalam sistem pendidikan kita saat ini, belajar bukan didorong oleh rasa ingin tahu, melainkan oleh rasa takut gagal.Takut nilai jelek.Takut tidak naik kelas. Takut tidak lulus.
Anak-anak belajar karena harus. Karena dituntut. Bukan karena ingin tahu. Dan kita menganggap itu wajar. Padahal seharusnya itulah yang membuat kita khawatir.
Saya pernah masuk ke kelas SMP di daerah pinggiran. Gurunya semangat, murid-muridnya tertib.Saya bertanya kepada salah satu murid, “Kalau kita minum, airnya masuk ke paru-paru nggak ?”
Dia menjawab cepat, “Enggak, Pak. Masuk ke lambung.”
Saya tanya lagi “Kenapa bisa begitu ?”
Dia terdiam. Lalu menoleh ke gurunya. Gurunya tersenyum dan berkata: “Itu belum dijelaskan, Pak.”
Jawaban si anak bukan karena paham.Tapi karena hafal. Dan ketika ditanya lebih dalam, dia tidak tahu, tidak terbiasa menjawab pertanyaan terbuka. Karena sejak kecil yang dia tahu jawaban yang benar adalah yang ada di buku atau di LKS.
Masalah lain yang tak kalah mendasar adalah ada asumsi bahwa semua anak harus bisa hal yang sama. Semua harus jago matematika. Semua harus bisa IPA. Semua harus lulus ujian nasional.
Padahal, tidak semua anak diciptakan untuk itu.
Ada anak yang lebih suka menggambar. Ada yang senang berbicara. Ada yang tidak pernah paham rumus fisika, tapi bisa membongkar sepeda motor sejak SD. Sayangnya, dianggap kurang pintar, karena tidak masuk dalam definisi standar sistem.
Andaikan Albert Einstein sekolah disini saat ini, mungkin akan dianggap bermasalah.Terlalu banyak bertanya.Terlalu susah diatur.Tidak sesuai kurikulum.
Kita perlu menyadari bahwa pendidikan bukan tentang mencetak anak-anak yang seragam. Bukan soal siapa yang paling cepat menghafal, tetapi siapa yang paling berani berpikir.
Sekolah seharusnya menjadi tempat yang menyalakan api rasa ingin tahu, bukan memadamkannya. Anak-anak seharusnya didorong untuk bertanya, bukan hanya diberi jawaban.
Kita tidak sedang butuh lebih banyak lulusan yang hafal teori, tapi tidak bisa menerapkannya dalam hidup nyata. Kita butuh generasi yang bisa berpikir kritis, memecahkan masalah, dan punya kemauan belajar seumur hidup.
Perubahan pendidikan tidak bisa hanya mengandalkan revisi kurikulum, penghapusan ujian nasional. Yang lebih penting adalah mengubah cara kita memaknai belajar, dan cara kita memperlakukan anak-anak sebagai murid yang memiliki potensi berpikir.
Sebab sejatinya murid-murid itu bukan bejana kosong yang harus diisi. Mereka adalah api kecil yang harus dijaga. Dan satu-satunya cara untuk menjaga api itu tetap menyala adalah dengan membiarkannya penasaran.
Bukan dengan menakut-nakuti soal nilai, soal tidak rangking, soal tidak naik kelas.
Guru seharusnya tidak hanya menjadi pengajar, tetapi juga penuntun. Sekolah seharusnya bukan hanya tempat mendengarkan, tapi juga tempat bertanya dan berdiskusi. Dan nilai bukanlah satu-satunya ukuran keberhasilan.
Saatnya kita mengembalikan makna sekolah. Bukan sebagai tempat mencetak nilai, tapi tempat membentuk manusia. Yang berpikir, merasa, bertindak dan terus bertanya.(**)
