Sumbu Borneo

PAJAK DAN RASA TAKUT

Ilustrasi
Opini-SumbuBorneoID
Bagikan :

Oleh : Muslimin.M

Saya bukan pengusaha besar, bukan juga konglomerat.
Tapi tiap tahun saya tetap harus lapor pajak. Harus setor. Jumlahnya tidak besar.

Bukan soal uangnya.Tapi soal rasa. Rasa bahwa saya memberi, tapi belum tentu dipercaya.
Rasa bahwa saya patuh, tapi tetap dianggap kurang.

Saya kadang menganggap lucu, saya bayar pajak karena takut. Bukan karena bangga.Takut kena denda. Takut diperiksa.Takut dianggap nakal.

Tapi apakah negara juga takut ?, Takut kalau uang pajak disalahgunakan ? Takut kalau anggaran bocor kemana-mana ?

Saya tidak tahu. Dan mungkin tidak akan pernah tahu.

Dulu waktu kecil, saya diajari oleh orang tua dan guru saya, pajak itu untuk membangun negara.
Untuk sekolah. Untuk rumah sakit. Untuk jalan raya. Saya percaya itu. Dan saya masih ingin percaya.

Tapi kepercayaan itu sekarang sering diganggu.
Oleh berita-berita soal pejabat pajak punya jam tangan miliaran.
Oleh rumah megah yang besar, kendaraan mewah.
Oleh gaya hidup yang terlalu jauh dari kesederhanaan rakyat yang ditarik pajaknya.

Kadang saya berpikir dan bertanya dalam hati, mungkin saya ini terlalu lugu. Masih percaya bahwa negara bisa dibiayai dari rakyat.Tapi kenyataannya, negara juga dibiayai dari utang.
Utang yang makin tahun makin besar.

Tapi, saya tidak mau sepenuhnya sinis.
Karena saya tahu, didalam kantor pajak, ada juga yang jujur. Yang bekerja sungguh-sungguh.Yang tetap idealis ditengah sistem yang sumpek.

Kadang saya iri juga sama negara-negara lain.
Di sana, orang bayar pajak dengan senang hati.
Karena mereka lihat hasilnya.

Transportasi umum tepat waktu. Layanan rapi dan cepat. Kesehatan dijamin dengan fasilitas dan layanan optimal. Pendidikan terjangkau dan berkualitas.

Di sini ?,
kadang masih antre, masih lebih banyak mengeluh, bahkan kita bayar. Kita diminta sabar. Kadang diminta banyak berdoa.

Saya hanya ingin satu yaitu *kepercayaan*. Saya ingin saat saya setor ke kas negara, negara juga setor balik dalam bentuk pelayanan dan
pembangunan yang benar-benar dirasakan rakyat.

Karena kalau pajak hanya menjadi beban, rakyat akan mulai cari celah.
Akan mulai main akal. Akan mulai belajar lari.

Dan kalau semua lari,
siapa yang akan bertanggung jawab ?

Jujur saja, saya kadang bertanya-tanya, kemana semua uang itu pergi ?
Jalan masih bolong. Rumah sakit antre. Sekolah/kuliah mahal.Tapi petugas pajak selalu ramah kalau kita telat.

Yang bisa saya ubah, hanya satu, Tetap bayar pajak. Walau takut.
Karena kalau semua orang pilih ngumpet, negara ini mau hidup pakai apa ?

Saya tidak idealis.
Saya hanya realistis.
Kalau saya dapat uang dari negara ini, saya harus kembalikan sebagian ke negara.

Apakah saya percaya semua uang itu digunakan dengan baik ?

Saya juga tahu, tidak semua orang
di pemerintahan itu korup.
Ada yang jujur. Ada yang sungguh-sungguh, ada yang ikhlas bekerja.

Saya hanya orang biasa.
Yang bayar pajak.
Lalu kembali bekerja.
Agar bisa bayar pajak lagi tahun depan.

Kita ingin pajak seharusnya perwujudan gotong royong dalam bentuk paling modern. Tapi ketika negara hadir bukan sebagai mitra, melainkan sebagai algojo, maka gotong royong berubah menjadi keterpaksaan.

Rasa takut itu bukan ketidaktahuan semata,tapi hasil dari relasi kuasa yang timpang antara negara yang terlalu curiga dan rakyat yang terlalu takut.

Jika warga takut pada pajak, mungkin bukan warga yang perlu disalahkan. Mungkin yang perlu diperiksa bukan hanya laporan tahunannya, tapi juga cara negara memperlakukan rasa percaya.(**)

Berita-Terkait

Leave a Comment

error: Content is protected !!