Oleh: Muliadi Saleh
Penulis|Pemikir|Penggerak Literasi dan Kebudayaan
Saya berkesempatan ngobrol santai dengan beberapa orang sahabat yang berprofesi sebagai ASN di sebuah kafe. Sambil menikmati kopi hitam gula aren dan singkong goreng, kami berbincang tentang banyak hal, dari yang remeh-temeh hingga yang relatif serius. Salah satu yang cukup menarik adalah obrolan tentang kondisi kualitas dan kapasitas SDM ASN serta birokrasi yang mereka lakoni sebagai medan pengabdian. Dari sanalah lahir tulisan ilustrasi reflektif ini.
Birokrasi kita sering kali bagaikan sebuah gedung besar dengan banyak ruangan, namun sebagian penghuninya sibuk membuka-tutup pintu yang sama, menata kursi yang tidak pernah diduduki, atau menuliskan catatan yang tak pernah dibaca. Mereka tampak sibuk, tetapi ketika ditanya apa yang sebenarnya dikerjakan, jawabannya sering melayang di udara: tidak jelas, tidak tegas, dan seringkali bukan pada tugas pokok dan fungsinya.
Fenomena “mencicil hal-hal kecil” inilah yang mencerminkan wajah sumber daya manusia di banyak lembaga kita. Mereka merasa seakan-akan sedang memikul gunung raksasa, padahal hanya sedang menaiki bukit kecil. Perasaan heroik itu timbul karena energi habis pada perkara sepele, yang dibesar-besarkan dalam narasi personal, sementara tugas utama—yang menuntut visi, kapasitas, dan keberanian mengambil keputusan—terabaikan.
Birokrasi yang Gelisah pada Hal yang Bukan Tugasnya
Sering kita jumpai seorang pegawai negeri gelisah luar biasa karena persoalan teknis yang bahkan bukan tanggung jawabnya. Ia menghabiskan energi menasihati rekan sejawat tentang hal yang bukan dalam kewenangannya, atau sibuk memperdebatkan perkara administratif yang sebetulnya hanya urusan kecil. Dari luar, ia tampak aktif, berdedikasi, bahkan sering dikira “pekerja keras.” Namun bila ditelusuri, tidak ada produk nyata dari kerjanya.
Inilah gambaran birokrasi yang bergerak dalam lingkaran kecil, sibuk berputar tanpa pernah benar-benar maju. Mereka mengira putaran itu sebuah pendakian, padahal hanya repetisi yang melelahkan. Bukan produktivitas yang lahir, melainkan kesibukan artifisial—semacam simulasi kerja yang hanya memperpanjang rapat, menambah laporan, memperbanyak tanda tangan, tanpa satu pun hasil substantif bagi publik.
Ilustrasi Jobdes: Dari Puncak hingga Staf
Dalam organisasi birokrasi, setiap level sejatinya memiliki job description (jobdes) dan tugas pokok dan fungsi (tupoksi) yang berbeda. Jika tidak jelas, maka terjadilah kekacauan: pemimpin sibuk urusan teknis, staf sibuk mengurusi politik kantor, dan organisasi kehilangan arah.
Top Leader (Menteri, Gubernur, Bupati, atau Kepala Lembaga)
Jobdes mereka adalah visioner—menentukan arah, merumuskan strategi besar, menjadi kompas organisasi. Tupoksi manajerialnya adalah memimpin dengan visi, menjaga integritas, memastikan keberpihakan kebijakan pada rakyat.
Contoh nyata: masih sering kita lihat seorang kepala daerah lebih sibuk mengurus panggung seremoni peringatan hari jadi, sementara laporan evaluasi pembangunan infrastruktur tertunda. Energi besar tersedot pada detail kecil yang seharusnya bisa didelegasikan.
Eselon I–II (Dirjen, Sekda, Kepala Dinas/Badan)
Jobdes mereka adalah perumus kebijakan operasional—menerjemahkan visi pemimpin ke dalam program dan kebijakan sektoral. Tupoksi manajerialnya meliputi pengambilan keputusan strategis, membagi sumber daya, dan mengelola koordinasi lintas bidang.
Contoh nyata: rapat koordinasi antar-dinas tentang penanganan banjir sering berulang kali dilakukan, tetapi keputusan konkret—seperti siapa yang harus memperbaiki drainase, siapa yang menyiapkan relokasi warga—justru berlarut-larut. Kebijakan tertahan dalam meja rapat.
Eselon III (Kepala Bidang, Kepala Bagian)
Jobdes mereka adalah koordinator—menyusun rencana kerja detail, mengawasi pelaksanaan, dan melaporkan capaian. Tupoksi manajerialnya adalah menghubungkan gagasan strategis di atas dengan teknis di bawah.
Contoh nyata: sering kali mereka larut dalam mengoreksi tata bahasa laporan staf, tetapi lupa mengecek apakah kegiatan lapangan benar-benar terlaksana. Kinerja lapangan tertinggal, sementara kertas laporan penuh tinta koreksi.
Eselon IV (Kepala Seksi/Subbagian)
Jobdes mereka adalah supervisor teknis—memastikan pekerjaan sehari-hari staf berjalan sesuai target, mengawasi kualitas, dan menjaga kelancaran alur administrasi. Tupoksi manajerialnya adalah monitoring, problem solving teknis, serta membimbing staf.
Contoh nyata: kepala seksi pelayanan di sebuah rumah sakit sibuk mengatur dekorasi acara seremonial, sementara antrean pasien menumpuk di loket. Supervisi publik terabaikan karena energi habis pada persiapan acara kecil.
Staf Pelaksana
Jobdes mereka adalah eksekutor—menyusun laporan, mengurus data, melayani publik, menyiapkan administrasi. Tupoksi mereka adalah melaksanakan pekerjaan detail sesuai arahan.
Contoh nyata: masih ada staf yang merasa laporan ketikannya adalah karya agung yang setara dengan kebijakan besar, padahal laporan itu hanyalah hasil salin-tempel tahun sebelumnya. Ada pula staf front office yang sibuk mengobrol, sementara masyarakat menunggu layanan dasar.
Gunung yang Dirasakan, Bukit yang Dikerjakan
Ibarat seorang pendaki, birokrat yang mencicil hal kecil selalu merasa sedang menaklukkan Himalaya, padahal baru menapak bukit kecil di halaman rumah. Gunung besar itu hanyalah ilusi—narasi yang dibangun untuk membenarkan keterjebakan pada urusan remeh. Mereka lupa bahwa birokrasi diciptakan bukan untuk mengulang-ulang pekerjaan kecil, tetapi untuk mengarahkan energi besar bangsa menuju tujuan bersama: kesejahteraan rakyat.
Gunung yang sejati adalah reformasi pelayanan publik, tata kelola anggaran yang transparan, keberanian memotong jalur korupsi, serta inovasi yang memudahkan masyarakat. Bukit kecil hanyalah dokumen yang bisa selesai dalam satu jam, rapat internal tanpa arah, atau seremonial tanpa makna. Namun ironinya, sering kali bukit kecil itu diperlakukan bak Everest yang menuntut upacara keberangkatan.
Refleksi Puitis tentang Kesibukan Semu
Kesibukan semu adalah ilusi yang menyita usia.
Ia menampakkan keringat, tetapi tanpa hasil nyata.
Seperti seseorang yang sibuk menyapu daun yang jatuh, namun pohon di sampingnya tetap meranggas tanpa dirawat.
Begitu pula birokrasi kita:
ada yang sibuk menata arsip usang,
sementara pelayanan publik tetap tersendat.
Ada yang tekun merapikan meja, padahal rakyat menunggu solusi di luar jendela.
Apa yang Harus Dilakukan
Kita membutuhkan keberanian untuk keluar dari jebakan “mencicil hal-hal kecil.” Birokrasi harus dibangun dengan orientasi pada hasil, bukan sekadar aktivitas. Pegawai perlu memahami tugas pokok dan fungsinya dengan jernih, agar energi tidak lagi habis pada kegelisahan yang bukan miliknya.
Membangun bangsa adalah mendaki gunung yang sesungguhnya,
bukan sekadar mendaki bukit kecil yang dibesar-besarkan.
Gunung itu bernama integritas, efisiensi, keadilan sosial,
serta pelayanan publik yang benar-benar memudahkan hidup rakyat
Pada akhirnya, birokrasi adalah wajah negara di mata rakyat. Jika ia hanya sibuk dengan urusan kecil yang tak bermakna, maka citra negara pun menjadi kecil, rapuh, dan tidak dipercaya. Namun bila ia berani menatap gunung sejati, bekerja sesuai tupoksi, menata energi pada hal yang benar-benar penting, maka ia akan menjadi mesin perubahan yang mendaki tinggi bersama rakyat.
Mencicil hal-hal kecil hanyalah jebakan kenyamanan. Yang kita butuhkan adalah kerja besar dengan hati besar, agar birokrasi tidak sekadar sibuk, tetapi benar-benar bekerja.
Pada akhirnya, birokrasi adalah wajah negara di mata rakyat. Jika ia hanya sibuk dengan urusan kecil yang tak bermakna, maka citra negara pun menjadi kecil, rapuh, dan tidak dipercaya. Namun bila ia berani menatap gunung sejati, bekerja sesuai tupoksi, menata energi pada hal yang benar-benar penting, maka ia akan menjadi mesin perubahan yang mendaki tinggi bersama rakyat.
Apakah ilustrasi ini terjadi di tempat Anda?
Muliadi Saleh
“Menulis untuk menginspirasi, mencerahkan, dan menggerakkan.”
